Jumat, 16 Mei 2014

Rahasia Senja


“Heh, peranakan campuran!,” ujar lelaki itu, garang tepat ke arahku.
“Apa sih, kamu? Pergi sana,” sahutku, datar sambil berlalu berusaha tak menghiraukannya.

Sudah sering aku mendapatkan predikat itu; anak campuran, blester, turunan gagal. Dulu, pada awalnya memang aku sempat mengambil pusing itu. Setiap pulang sekolah, selalu menangis di setiap langkah ke rumah. Ibuku bilang mereka hanya anak ingusan yang tidak mengerti betapa cantiknya aku. Hm, bagiku itu hanya hiburan sementara, sifatnya datang dan pergi ketika ibu membelai rambut ke daun telingaku sambil meninabobokanku.

‘Gubrak’ aku terjatuh di kumpulan daun ‘danpung namu’ yang berguguran. Senja di musim gugur selalu mendatangkan keharuan yang tidak dapat digambarkan dengan kata – kata. Kali ini tentu saja konteksnya dengan sakitnya lututku akibat daun musim gugur ini.
“Kamu nggak apa – apa?”seorang pemuda menjulurkan tangannya di hadapan mukaku. Sontak aku yang terkejut, bukannya menyambut tangan pemuda itu justru berjingkat ke belakang. Sedetik kemudian mataku dan matanya beradu. Lelaki ini dalam benakku seseorang yang cukup tampan. Tipe idaman wanita Asia.
“Ah, aku baik – baik saja kok,” ucapku sambil tersenyum. Tangan pemuda ini tetap masih menjulur tak bergeming. Dengan pelan – pelan aku berusaha meraih tangannya. ‘Halus,’ pikirku. Pasti dia anak orang kaya.
“Terimakasih ya,”lanjutku.
“Bukan apa – apa. Sudah hampir malam. Kamu menuju rumah, kan?”tanyanya, sangat ramah. Berbeda sekali dengan teman – teman sekolahku yang sama sekali tak mengerti tentang hubungan antar manusia untuk saling menghormati. Aku semakin gusar apabila mengingat dan membandingkan hal itu dengan pemuda ini.

“Iya. Mau berjalan bersama?”jawabku dengan tanya yang lugas. Aku memang begitu. Buat apa menyembunyikan maksud apabila memang membutuhkan teman untuk berjalan bersama? Diam – diam aku memperhatikannya. Matanya tajam, misterius dengan bola mata hitam, kelam. Entah apa yang disembunyikannya, dia jarang melihat mata lawan bicaranya. Bibirnya oranye, seoranye senja ini, dan seoranye daun musim gugur yang mulai berjatuhan didera angin. Kulitnya, putih, bukan seputih salju, namun seputih langit pagi yang masih berkabut. Aku semakin hanyut dalam lamunanku dan keheningan langkah kaki kami yang berirama.

Kami berhenti di sudut persimpangan ke arah rumahku. Perbincangan kami malam itu hanya sebatas si korban dan penolong saja. Terimakasih senja sudah membuatku mengenal Yang, sekali lagi terimakasih.

.................................................................

Baru beberapa bulan aku menjadi pengguna media sosial Instagram dan sudah banyak jumlah pengikutku. Aku sebenarnya malas mengikuti trend media sosial ini dan harus memposting foto – foto yang ada di galeri gadget-ku. Bermula dari 10 likes, kemudian berlanjut hingga 10ribu dan bahkan 100ribu likes. Memang, tuntutan pekerjaan membuatku harus terus uptodate dengan hal – hal seperti ini. Aku semakin heran, banyak sekali manusia di luar sana yang seperti dimantrai untuk terus terobsesi bermain dengan ini. Sedangkan aku? Tertarik saja tidak.

“Rin, kamu sudah siap naik?”
Okay, hold on a second,”jawabku sambil tersenyum simpul, seraya membenarkan stilleto ku yang masih berbau toko.

Lenggak – lenggok tubuhku menjadi penutup acara internasional pada malam ini. Jepretan kamera di sana – sini melengkapi ketenaran yang mereka bilang tidak akan pernah bersifat selamanya ini. Khalayak bilang aku cantik dan manis. Menurutku itu hanya masalah selera saja. Aku melangkah dengan stilleto ku dan kemudian berhenti di ujung catwalk, membuka jas ku dan membuangnya ke arah kiriku. Sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menghiasi gemerlapnya hidupku. 

..........................................................................

“Aku pulang,” seruku sambil memasuki halaman rumahku. Rumahku terbilang sangat sederhana. Entah mengapa aku menyayanginya. Atmosfer ketenangan yang menyambutku dari pintu gerbang kecil di depan hingga sejuknya tanaman – tanaman yang Ibu rawat, semuanya seakan membuatnya menjadi ‘rumah’ tempatku mengakhiri setiap letihnya hari.
“Ah, anakku,” ujar ibuku, kemudian memelukku terlalu erat hingga napasku tersengal. Kami berbagi tawa dan selalu bersama. Ibuku bekerja dengan tanaman – tanamannya. Dulu ibu bekerja untuk sebuah perusahaan yang meneliti tentang biologi. Namun, kata ibu ada beberapa masalah di perusahaan itu yang membuat ibu tidak betah lagi bekerja di sana. Ibu adalah wanita yang cerdas dan sangat cantik. Ibuku menamaiku seperti nama bunga di Bahasa Jepang, Hana. Kalau di bahasa kami, Hana berarti satu. Kata ibu aku adalah satu – satunya anugerah terindah milik Ibu yang tak akan pernah terganti.
“Nak, ibu membuatkanmu nasi kari di dapur. Maafkan ibu, ibu sudah memakan beberapa bagian. Ibu janji, besok akan ibu buatkan tteopokki, kesukaanmu. Bagaimana?” suara ibu yang sangat lembut selalu berhasil menyejukkan hariku. Kesetiaan tiada tara untuk menyayangiku dan memenuhi hariku dengan keindahan menjadi teladan tersendiri yang tak akan pernah aku lupakan. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini terimakasih untuk ibu. Selalu.

..................................................................................

“Halo Rin, ayo masuk mobil. Kita makan siang ya nak,”papaku membukakan pintu mobil untuk mempersilakanku masuk.
“Terimakasih Pah. Makanan apa siang ini? Teopokki kah?” ujarku sambil tersenyum lebar. Aku yakin papaku pasti tahu seberapa lebar senyumku siang itu.
“Hahaha, baiklah,” ujar papaku datar, namun kemudian menyungging senyumnya.

Sudah lama aku tak bertemu papa minggu ini. Kepadatan jadwalku dan kepadatan jadwal papa membuat kami jarang bertemu. Akhirnya siang ini, keberuntungan mendatangi kami dan kami pun menyempatkan diri untuk makan siang.

‘Mas-issneun teopokki’ sebuah papan restoran yang memang menjadi langganan kami. Kata papa, dulu ini restoran kesukaan mama. Aku pun selalu merasakan kehadiran mama ada di tengah – tengah kami ketika kami makan di sini. 

“Kamu tahu, Rin? Di restoran ini kami melangsungkan pernikahan singkat kami. Di restoran ini, papa memeluk mamamu karena papa tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang disayangi. Nenek kamu meninggal satu hari sebelum pernikahan kami, menguak duka yang sudah lama sekali terpendam,” kembali lagi papa bercerita tentang bagaiman restoran ini sangat berharga bagi keluarga kami.
Seusai makan aku berkeliling restoran seperti biasa. Mengapa mereka tidak membeli restoran ini saja kalau memang restoran ini begitu berharga? Lalu, duka apa yang papa selalu bicarakan tiap kali kami ke sini. Aku berjalan ke arah dapur. Baru kali ini aku berjalan ke dapur. Baunya semerbak, wangi, khas ginseng. Aku terheran – heran ketika memasuki pintu dapur. Begitu banyak staff yang bekerja bagi restoran ini, pantas saja lezat masakannya. Kemudian seorang lelaki berjalan ke arahku. Sepertinya dia orang penting. Beliau tersenyum, sangat manis meskipun banyak keriputnya yang mulai merajai wajahnya. ‘Ah, pasti beliau bukan orang lokal’, pikirku setelah melihat mata biru dan postur tubuhnya.
Beliau kemudian berkata, “Apa kabar kesayanganku, Rin?”

Senin, 05 Mei 2014

Self Paradigm

2 Februari 1954, 09.45 a.m.

Mataku membengkak. Masih terasa pedih, apalagi jika aku menyentuhnya. Hatiku juga membengkak butuh tambalan di sini sana. Kakiku sakit. Dulu aku sering berlari keliling lapangan sekolah sebelum berlomba. Tapi, ini bahkan lebih sakit daripada latihan yang diberikan Pak Jon. Semuanya remuk redam. Aku tak tahu ini mimpi atau nyata, tapi untunglah aku masih hidup.


1 Februari 1954, 06.45 p.m.

 “Jingga, di sini bagus sekali!” serunya bersemangat. Sudah lima kali dia berteriak kegirangan.
“Iya,” celetukku, setengah menggumam.
Kami suka melakukan traveling. Bukan hanya sebatas mengikuti atmosfer kekinian saja, tapi memang kami sudah melakukan perjalanan berulang – ulang kali. Kadang jauh, kadang dekat. Kali ini kami sedang menatap keindahan lembah penuh bunga liar di sebuah pegunungan negeri daun maple merah. Ini senja yang indah. Aku yang sudah biasa terpukau pun berdecak kagum melihatnya. Terkadang hidup merupakan tantangan bagiku, selebihnya adalah pilihan untuk selalu terpukau atau juga ikut memukau.
“Hey! Jangan melamun terus dong. Pake manyun lagi. Senjanya indah, penuh dengan bias jingga dari matahari terbenam! Persis kayak namamu Jingga,” ucapnya, tak henti – hentinya memuji keindahan alam yang bersolek, mengundang kekaguman kami.
“Jangan lupa kita harus mendirikan tenda. Sepertinya beberapa jam sampai matahari hampir terbit akan bagus di sini. Selanjutnya, kamu tahu kan kita kemana?” tanyaku memastikan. Lelaki ini kadang susah diprediksi. Kejantanannya saja yang selalu konstan, selalu berlagak jagoan, paling berani mengambil langkah. Namun sayang, kadang langkah hanya sebatas langkah. Ibarat Nuttracker berjalan; ya, langkahnya tak terarah dan acapkali harus ditunjukkan jalan.
“Emm, tidak. Hahahaha. Maafkan aku Jingga. Kamu tahu kan, kita memang harus selalu melengkapi. Tidak salah aku memilih traveling partner sepertimu,” ucapnya lugas, tanpa basa – basi dan diselingi tawa nyaring.
I’ll take that as a compliment. Kompasku menunjukkan ke arah utara di sana. Kita akan menuju ke selatan,” jawabku singkat, padat, dan jelas sembari mengangkat kompasku
Perlu diketahui, kami ini ibarat koin yang menyatu tapi memiliki dua sisi berbeda. Saling mengenal baik, namun tetap harus menghadapi perbedaan. Terkadang sulit, tetapi terkadang sangat jauh dari kata membosankan. Namun, aku tak menampik banyak persamaan yang memang sudah bawaan lahir di antara kami. Ah, sudahlah, namanya juga hidup. Ada panas yang menghangatkan, tetapi juga harus ada hujan yang menyejukkan.
“Oke deh! Kalau kita tersesat, aku yang carikan jalan deh,” ucapnya sambil memainkan sepatu boots-nya. Aku hanya tersenyum sarkastik – karena aku tahu dia yang akan membutuhkanku agar tak tersesat.


2 Februari 1954, 03.45 p.m.

 “Jingga, jangan. Kamu, jangan,” ujarnya merintih kesakitan.
Aku melihatnya melihat tepat ke arah kedua bola mataku. Dia tampak mengerang kesakitan. Binatang buas itu kejam sekali. Lelakiku hampir mati dibuatnya. Darahnya bercecer di antara putihnya hamparan salju. Mengapa kemudian menjadi seperti ini? Liburan kami, kesenangan kami? Binatang buas itu sempat menitipkan salamnya kepadaku setelah dia mencabik – cabiknya. Katanya, ‘dia benci harus selalu mengerti.’ Katanya, ‘dia kesepian harus selalu menunggu.’ Katanya, ‘dia telah lelah untuk selalu memulai.’ Entahlah binatang idiot. Kumpulan katanya sama sekali tak masuk di akal. Aku harus tetap rasional.
Aku harus bagaimana? Aku harus mencari tolong. Tertatihlah aku untuk menyelamatkan si lelaki. Aku sungguh mencintainya.
Aku menghitung sampai tiga sebelum berjalan lagi, memastikan semuanya baik – baik saja. Satu, dua, tiga......

2 Februari 1954, 09.50 p.m.

Ah kenapa dia harus tertinggal. Aku bukan Katniss di The Hunger Games yang bisa sehebat itu menyelamatkannya. Sekarang aku terbawa dalam elegiku sendiri, merintih menunggu, namun tahu bahwa aku yang harus kembali.
Pelupuk mataku masih sakit, entah mengapa. Rasanya aku sudah berjalan jauh, kembali ke tempatnya, tepat dimana aku memutuskan untuk meninggalkannya dan mengikuti instingku. Ini gila! Aku memang pelari, tapi aku tak mampu berjalan kehausan di tengah lebatnya badai salju ini.
Aku memejamkan mata lalu mencoba mencari bayangan nyata. Aku terbaring lemah dalam sebuah ruangan, bunker sepertinya. Ataukah rumah warga sekitar yang menyelamatkanku? Entahlah. Aku tak peduli. Aku harus kembali menemuinya. Tak ada yang mengerti bagaimana rasanya – lelah terombang – ambing ketidakjelasan arah dan tujuan. Bahkan ini lebih parah dari terakhir kali kami ke Nepal, mendaki anak tangga menuju puncak Gunung Everest.
“Jingga,” sebuah suara lembut memaksaku untuk fokus mengikuti panggilan itu.
“Ya?” jawabku, bertanya lirih.
“Ayo mari, ada yang menunggumu.” Ucap wanita baya itu singkat. Aku sangat bingung dan tidak mengerti. Seseorang menemuiku dalam bunker? Apa? Ini serasa aneh. Mustahil dia yang menemuiku. Bagaimana bisa dia bertahan selama itu?
Aku berjalan menuruni lorong ke sebuah ruangan berkaca di sudut bunker besar ini. Bunker ini cukup luas untuk ukuran sebuah gunung di tempat dingin bersalju. Cukup hangat juga, cukup nyaman untuk mengistirahatkan pikiran dan sel – sel tubuh yang mulai lelah.
“Waktumu 45 menit ya Jingga,” ujar wanita yang menuntunku tadi.
Aku duduk santai di sebuah kursi yang dudukannya berkarat. Seperti sudah lama diduduki berkali – kali oleh banyak manusia. Lucu, apabila ku memikirkan banyak pantat yang mendudukinya. Ada pantatku juga sekarang. Sama seperti tempat tujuan traveling, sudah banyak yang berlalu lalang; datang, melihat, berlari – lari, bahkan membuang sampah meninggalkan sesuatu yang tak seharusnya ditinggalkan. Aku pun menghentikan pikiranku. Pandanganku tetiba tertuju kepada lelaki di depanku.
Dia! Lelaki yang aku terpaksa tinggalkan karena angka harapan hidup kami sudah menipis. Dia? Yang berdarah – darah diserang binatang buas. Apa? Bagaimana? Aku tidak mengerti. Ini terlalu kompleks.
Tiba – tiba aku mual melihatnya mulai berurai air mata. Entahlah, aku tidak sanggup lagi mengerahkan kemampuan otakku untuk mengingat apa yang terjadi. Aku menutup mataku lalu menghitung sampai tiga, memastikan semuanya baik – baik saja. Satu, dua, tiga....
Mataku perlahan membuka. Aku merasa sangat mual. Aku melihat ke arah kaca di belakang bangkunya. Ada bayanganku, memakai, baju tahanan. Aku tak tahu ini mimpi atau nyata, tapi Tuhan, apa yang telah terjadi?

Sabtu, 21 Desember 2013

About Time



Another dawn in a high - tech era. My minds have been crumpled into their own labyrinth and yet there have been laying several empty fences around it. I am sitting in one famous coffee shop in a very touristic city. Many thoughts are filling up the labyrinth and yet none of them actually is forcing me to contemplate further. One thing that I have been noticing lately; I have my body with me but my mind is somewhere else. My body is inside of the labyrinth and my mind is outside of the fences. The next second my memory brought me up to yesterday night. A night that I supposedly still remember, a night to realize that Taylor Swift's song is somewhat real; everything has changed. 

.............................................................
20 December 2013

"So, what are you up to, eh?" Nye asked me a question, straight from her eyes. 
"Haha, what do you mean? Just life, I guess," I answered her question with my typical words; shallow and half-joking. 
"Shut up Anna! Hahaha, I am deadly serious you know?" She pretended like she was mad, but I knew she was not. 
"Well, I bumped into my ex yesterday. We had a chat in one of fine afternoon and it was quite vibrant," I started the real answer, I hoped she knew I was also being deadly serious. 
I looked at her more deeply. I looked her in her eyes, something has shifted through her day I thought. She must have had bad coffee or bad marks or anything else. Nye looked so tired. Even her smile was fake like Barbie capturing Ken's attention. 
There was a long pause. It was very long one. I could have counted how many minutes the pause was. 
"Wow, that's fantastic! Are you planning to hook up with him again or something?"she opened up another question in our conversation. Playing it safe, she was being her to bring up the possibility of me with my uncertain future with any guy that I have met in my life. 
"Hahaha, nah. Just, wait and see. You know me, I don't wanna be in a rush. I am not that woman who suffers from cancer and will die tomorrow you know?" I winked and smiled at her. 
It's just my style. If there is a darkness in my friends' lives, I try to cheer them up by putting several jokes; uncanny jokes, bad jokes, romantic jokes (I don't even know if this actually exists) and just regular jokes. Good thing is my friends are happy about it. My sometimes-bad-jokes are sometimes-the-highlights-of-their-day. 
"Obviously not. You are just that happy girl in a happy world. Sometimes think your mom should have named you Alice instead of Anna. You are just like Alice in Wonderland. I wish I had a life like yours," she smiled after she pondered me with her words.
"No, you don't. My life is just that life. Hey, what's up with the gloomy face by the way?"I maneuvered the conversation; I addressed a question. 
 She was quite. More quite than usual. She thought twice after I asked her the question. It seemed like she had an issue. I could have guessed. But, I guess it wouldn't be fair to guess after addressing somebody a question. 
"Umm, it's me and my boyfriend. I think sometimes I wanna give up on us. Like he's been very different lately and so have I. Between us, it's just... hard to tell anymore. But, somehow it makes me comfortable with our connection. I mean, he is not what he used to be and I am not like what I used to be. But, at some points the less complex our relation, the better it feels. It's like I don't worry about things anymore. I mean, I give a darn of what he's doing and stuffs. But, I don't name 'drama' to make this relationship becoming more unique. We take it really slow and somehow I feel the neat. He could just text me in the middle of the night; asking me to go out, getting some fresh air and I'd say yes. You know what, the old Steve wouldn't do that. He'd say 'where are we going, what's after this, are you sure it's hundred percent good' and other sort of things. I love this, it's like I have known him forever and I don't have to complicate things to even get to know him deeper," Nye was shut after her long sort of speech answer. I was amazed. She must've held that urge to tell the whole stories. I am glad she's done it and I believe she had a very great relief afterwards. 
"That was a very inspiring and yet brilliant words choice to tell me what have you been up to Nye,"
I put a pause after giving her compliments, to ensure that she got my attention. 
She looked at my face, seeking for the next words and realized that I put a puzzles, so the story can be more interesting. She knew I am pretty good at giving advice. It's been like that in the neighborhood and sisterhood; I am the doctor of melodramatic stories, the problem solver, and the psychic. 
"Well, do you understand what happened Nye?" I flipped the expectation that she might had with giving her further question. She shook her head, just like what I estimated. 
"Time, Nye. It's all about 'time',"

...............................................

20 December 2011

"And then what? What do you want?" I did not have the full pictures of what happened but the next thing I remembered was he was slapped by me. 
"I don't know. Just take it easy with us. Take it slow," he looked at me in my eyes, I knew he was serious and yet I dislike his answer, his reaction was burning my emotion even further. 
"I just don't get you. I don't get man. Whatever. If you want me, then be serious and create 'us'!" I looked at him half delirious, I didn't even know what I was telling him about. He looked at me oblivious, he gasped, he held my hands, let go and left. 
I cried like a baby being left by a mother. I thought I could not continue my life anymore. I thought with us being over equals to me being a failure. 

"Nye, I loved him so much, I have sacrificed anything you know. And look at that evil. He just left like that. Has he thought how much I cared about him?" I called Nye as if she could glue my broken relationship with Adam. 
 "Anna, you should know that I have been wanting a relationship. And yet, I haven't had a great one. Now, I am like suing anybody who shows up. You are lucky, you have felt this one. Unintended and yet very deep. I know you adore this guy so much, Anna. But, you have always told me to be tough. To prepare before the worsts. This is it, just be realistic, maybe he is not meant to be for you," her words slapped my heart. She was right, but somehow we were perfect match. There was barely flaw in our togetherness. Even though there was one, it was a very fun flaw.
"Nye, I somehow believe that he loves me. But, he is just very easy, he takes it very slow. He hasn't seen how much I have given and yet he has not ready to reply everything. He knew what I wanted, but he is unsure of his feeling anyway. Hopefully, somehow, someday he'd know how I feel," I closed that night's sad story session via telephone. We were not okay. Me and Nye were not okay, we felt insecure and yet it was quite immature. We were just two silly kids at that time; fantasizing perfect relationship and picturing prince to come and propose us for royal wedding. 



Time heals, time reveals, time keep things real. What have you seen in the mirror a year ago might turn into something different in the same mirror a year later. Although, everything has changed, but keep in mind, they are changed for reasons and out of reasons. Maybe it's not about you and your characters overall. Maybe it's about 'time'.








Yogyakarta, it is another rainy day of December 2013.










Rabu, 28 Agustus 2013

Sad Ending Story (Rope Hopes for Sailor Man)

"Honey, are you ready for the bed time?," my mother pulled up my blanket, putting her legs next to mine.
She is such a warming heart, the one with charming bonus. I love my mother very much. It was very cold winter night since I remember everything was dawn before I expected and I had to run miles to catch the bus home. I was in the middle periods of my elementary school. Things were a lot more nicer back then. You have tons of friends who wouldn't even look down on you. You have fun things to do and certainly you have sweet things to chew. I was 8 years old. Habitual issue was my mother happened to set me before going to bed and had a chat with me over half of night until I fell a sleep. Just like this winter night, she's about to tell me stories. Piles of stories in her memory I reckon. In fact, listening to her stories was beyond favorite to my life.
"Yes I am ready mommy. No, actually nope. After you send me bed time prayer and you hug me while I sleep and before you have to tell me story," I grinned a little. My eyelashes were put up and down as she looked at me calmly.
"Well, once upon a time. Wait a second, what kind of story do you want? Scary? Booooo...,"she teased me as I giggled and put my head inside of my blankie.
"Noooo mother. I want a great one, the one that will remember the rest of my life,"I answered as I looked at the windows across my bed. It was actually a clear night. I barely see the snows or drizzles.
"Well, honey. This one is special. Would you promise mother before I tell you the stories?"she winked a little. Then she smiled as I saw some wrinkles on her face. She was aging. I'm the only child of the family, but I am a very happily spoiled child since my mother is number one in the whole wide universe. I think that is universal point that everybody can generally say, isn't it?
"I promise mom. I do, I will keep the story inside of my memory. Amen,"
"Honey, are you saying prayer or what? My little honey. You've grown up. Here, once upon a story, there was a very very brave sailor. He sailed to most of the lands all over the maps. He was very brave, enthusiastic, amazing, and quite handsome."
"Is he like Poppeye Mom?"I sneaked question in the middle of her story. I knew she wouldn't like that. I had no idea why I kept on doing that since I was born. Sneaking to her life, keep her emotion sort of mad but in a happy way.
"No, wait, you know the rule, don't disturb mom when I'm telling you story,"Mom was pretending to be mad at me. Ofcourse I knew that. I gave her a sweet apology and she continued her story.

.....................................................
A sailorman, named  Bryan, has touched a shoreline of Everland. Every time he put his feet on the ground after a long journey of sailing, he always was the first time who was seen by most women after the ocean as the Great. He is indeed charming and quite marvelous in his look. There was no doubt that he would not find any woman who would not fall in love with him. His love life is quite melancholy and yet dramatic. He has not found the one as he expected. He thinks that this special woman does not exist and probably out of reach somewhere within border he has not sailed yet. In which, he turned out as the perfect prince whose heart is not taken yet.
Skip to the part when something was falling into him. You did not misread that part, yes it was "something" instead of "someone". Bryan had a little secret that finally I have to tell you, so the story can be finished. Anyway this handsome and demanding sailorman kept his secret, so nobody would follow. He had this rope that he tightened up to shore part, so his ship was not blown by the wind. The rope has been accompanying Bryan's journey for about 15 years. Quite long time to be together and quite amazing if you interpret this as a relationship between human. Long story short, rope is magically and eventually not a really rope. It contains magics in it and shhhh Bryan did not even know that. All he knew that the rope was his lucky charm.
One day when Bryan was off in Everland and dedicated his life to sell some resources that he got while he was sailing. The rope made its wish, the most gigantic wish that has ever known. The rope was falling in love with sailorman for all these years they were together. And what made it so tough until it was unbreakable was her love to the sailor. It was vivid to the rope if it could transform to human being. The rope actually sang a song about her hope and wish every time sailor left her tightened to the shoreline.

"Wondering, if this might lead to happy ending.
Or is this just another left out wishing.
I might be dying, I might be breaking.
If in the end, sailor comes to marry a friend."

Surprisingly after she finished up the last line of her song. She magically was transformed into a beautiful young lady. She had no idea what happened and so had Bryan, because at that moment Bryan happened to get back from the city.
"Who, whoo are you?"Bryan seemed confused. He was still conscious, though. Well, he is a sailorman.
"I'm, emm, I'm,"the rope had no idea what to do. It was pretty reluctant to her to actually convey and confess what happened. Sailorman might faint overall.
"Are you a thief?"asked Bryan and prepared to do karate on the rope.
"Nooo. Obviously no. I am Ropa. I am a woman of Everland. I swam and I had no idea where to go since my family left me behind,"explained the ropa who is now eventually and officially becoming Ropa.
"That's odd. I've never seen a woman like you before,"said Bryan as he indicated that he fell into Ropa as well.

Finally. they fell in love and they got together, until Bryan realize that he found the one. They lived happily ever not after apparently. Unfortunately a huge storm came to Everland after the change of climate that happened recently. Bryan tried to find his rope since he did not want to actually go until he married to Ropa.
Bryan and his crews might die whipped by the winds and storms if the rope was not found.
Ropa ended up wishing that she could help the man she loved. She was transformed into a rope again, an old bulky rope. Bryan wouldn't marry a rope, would he?
Ropa was gone, the rope was found. Bryan grabbed rope and tightened it up to the shoreline. Bryan was overwhelmed now looking for Ropa. Ropa was not there. The pretty women that he had delusion on has gone. It was a good atmosphere of love that turned to disaster since Bryan was looking for real woman, not a rope who would sacrifice its life accompanying mighty sailor man life for years and even decades or centuries.
In the end, the storm was cleaned out by sunshine and the lust was staying there at Bryan's heart in memorizing his perfect woman that eventually did not come to reality. Ropa or the rope broke herself little by little. She loosen up as the ship was pushed away by the wind. She was broken into pieces as she knew it was out of reach love.


........................................................................

I cried too hard. I never knew such a sad story like that. Why mother told me that kind of story? Why?
"Hannah, do you know why mom tell you a non - happy ending story?"
I shook my head. I kept on crying. Down deep inside I knew what he was going to tell me. But, I was 8 years old. I was reckless to even know what happened to my friend who was crying because she wanted lollypop while instead she wanted attention. I thought every fairy tale or tales or bed time stories are supposed to be happy ending.
 "Hannah, no story has an ending yet. Not until the reader or, in this story is the listener choose what he or she will look upon it. A new learning or a sad ending. You choose your type of ending,"she smiled, the best kind of smile that I have ever seen, followed by some tears down her right cheek.
"You are a brave woman-soon-to-be. You know what you should look at, do you? Real love will stay even after ages and ages. Rope was brave to let him go and in other hand she has to deal with herself. She was torn apart,"she kept on putting words, passages, any quotes that she found the best to represent that sad ending story. We cried together.
"Hannah, do you know who the sailor is?"my mother wiped out the tears and tried to cherish me with forced smile. I know finally I had to face it. I had to be brave enough to face it.
"Father,"I answered and I was brave to say it out loud.







*For those who love the most but still hope to get notice; 'the most immortal love is unrequited love, out of reach love'.

Senin, 26 Agustus 2013

The Secret of Cheese Cake

New York, 10 Desember 2010


"Maaf," ujar seorang pemuda setelah menabrak samping tubuhku. Untung saja aku tidak terhuyung ke segala arah dan membuat onar di tempat kerjaku pagi ini. Aku cukup lihai dengan keseimbangan yang labil.
"Nggak apa - apa. Kiriman? Seperti biasa?" sapaku ke pemuda itu memastikan bahwa tabrakannya tidak mengguncang hidupku seutuhnya.
"Iya, satu loyang Red Velvet dan satu loyang Cheese Cake," jawabnya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.
Sudah lima bulan aku bekerja di Coffee Shop Queen di sudut Kota New York. Hingar bingar kebisingan kota ini sudah bersahabat dengan soreku usai kuliah. Aku harus membiayai hidupku yang tanpa orang tua dengan bekerja di sini. Aku menyukainya. Aku suka aroma kopi. Lembut dan unik. Bisa menipumu terkadang. Sepertinya manis, ternyata pahit dan mengejutkan. Sebenarnya bukan hanya itu saja alasanku bekerja di sini. Aku bukan penggemar kopi tingkat galaksi yang kecanduannya melebihi manusia rehab, yang terlena zat adiktif. Aku lebih kepada status pecinta kopi yang suka melihat orang - orang berlalu lalang untuk mendapatkan kopi favoritnya. Ataupun orang - orang yang menghabiskan waktu berjam - jam di sudut ruangan hanya untuk menikmati kopi senjanya. Lagipula, Rendy harus ke Sudan untuk misi humaniter. Aku yang bukan cenayang pun bahkan sudah mampu berekspektasi kalau dia akan menghabiskan waktu bertahun - tahun di sana. Entahlah, pekerjaan ini sudah paling tepat.

"Gyn, pengunjung sudah menantimu untuk mengantarkan latte nya. Kenapa kamu masih mematung di situ?" kejut seorang pekerja lain bernama Cindy, sambil menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku.
"Oops, maaf. Aku kira aku sedang menikmati kesunyian senja ini,"jawabku asal. Kemudian mengernyitkan dahi ketika tahu bahwa sudah ada manusia - manusia kota yang tak pernah tidur mengantre di Coffee Shop sore ini.

Rutinitas adalah favoritku. Mungkin karena ini rutinitasku dan aku yang berada di dalamnya. Semuanya hanya terasa sangat simpel. Sangat indah karena pikiranku berkata demikian. Aku tak ingin menganggap susah ketika aku masih mampu mendapatkannya. Toh, kuliahku masih saja berjalan dengan mulus tanpa ada celah sedikitpun. 'Perfect!' gumamku sambil memasukkan dollar bergambar Washington ke dalam mesin kasir. Yeah, akhirnya hari lainnya berlalu. Kemudian tatapanku berhenti seketika aku selesai meregangkan tanganku ke atas.
'Itu kan cheese cake yang tadi? Masih sisa? Kok tumben...' pikirku sambil masih menatap nanar cheese cake itu. Bukan, bukan, aku tak lapar. Tadi pun aku sudah makan dengan bekal yang aku buat sendiri di flat. Bukan peanut butter and jelly sih. Terlalu mengenaskan sepertinya jika setiap lunch harus aku habiskan dengan mengonsumsi peanut butter and jelly sandwich.
"Kenapa Gyna? Kamu mau cheese cake itu? Laparkah?"pertanyaan managerku, Peter mengejutkanku.
"Hahaha, Peter! Tentu saja tidak. Mungkin akan sangat lezat jika aku habiskan untuk sarapanku besok pagi dengan kopi Chicory dan musik jazz," jawabku dengan wajah mengejek.
"Hahaha, sebenarnya itu terdengar seperti surga. Kamu harus membawa pulang itu! Cheese cake ini adalah cheese cake paling enak yang ada di New York loh,"kemudian Peter meyakinkanku dan bahkan menyuruhku mengambil cheese cake itu pulang. Entah mengapa aku baru tersadar bahwa aku jarang membeli kudapan dari toko kue ataupun cafe yang ada di kota ini. Yah, tidak begitu terjangkau. Lebih baik aku pergi ke supermarket dan mendapatkan beberapa potong cookies seharga $2.
"Benarkah? Pasti buatanku lebih enak daripada itu Peter,"timpalku sambil setengah memberikan lelucon.
"Well, setahuku tidak ada yang sehebat Blake dalam masalah baking,"jawabnya dan kemudian diakhiri dengan Peter menuju dapur meninggalkanku dalam kebingungan apakah cheese cake gratis ini akan benar - benar berakhir di meja makanku besok pagi.

................................................

Sudah lebih dari empat semester aku belajar di Juliart, tetapi entah mengapa aku semakin yakin bahwa bakat tanpa ilmu pun akan berakhir menjadi sebuah tantangan. Dengan shift pekerjaan yang cukup padat, aku harus pintar membagi waktu kuliah. Terutama ketika bertemu dengan kelas yang sama sekali tidak kamu bayangkan ataupun idamkan. Kemudian, pikiranku melayang ke cheese cake yang tadi pagi aku santap. Rasanya sangat sempurna. Indah sekali ketika aku menyendoknya dan melahapnya dengan perlahan. Sudah berada di kulkas sejak kemarin sore, namun entah kenapa tidak ada yang salah dengan rasanya. Tiap gigitannya lembut dan meleleh di dalam lidah. Serasa dimanjakan, lidahku berteriak mau dan lagi dari dalam otakku. Mengapa selezat itu? Apa rahasianya? Aku sering membuat kue dan baking. Tapi yang ini, seperti ada sentuhan spesial dari pembuatnya. Seperti menyimpan rahasia resep yang mungkin sudah turun temurun diwariskan dari dahulu kala. Hidup memang penuh misteri, seperti cheese cake yang aku makan pagi ini.

Kembali lagi aku di coffee shop dan dengan berbekal senyum merekah aku menyapa setiap pengunjung yang datang sore ini. Aku menjadi semakin yakin bahwa hidupku tidak akan lengkap tanpa menghabiskan waktu sedetik di sini. Dulu aku sempat takut untuk mencoba bekerja dan bergantung pada kakakku. Namun, tampaknya agak tidak adil ketika aku melihat teman - teman lainku bekerja untuk uang saku mereka walaupun mereka masih memiliki kedua orang tua. Sedangkan, aku tidak. Aku juga pasti bisa menjadi dikuatkan dengan pekerjaan dan didorong untuk menjadi semakin mandiri.
Pemuda itu datang lagi. Siapa namanya? Brown? Sesuatu yang diawali dengan B. Namanya sangat kental dengan nuansa New York atau kota - kota besar lain di Negara Paman Sam ini. Blake. Iya benar, Blake.
"Hai Blake, cake apa lagi yang kamu antar hari ini?"tanyaku separuh kegirangan dan berbekal hasrat ingin tahu yang semoga tidak begitu berbau mencurigakan.
"Hai. Aku bawa macaroons, carrot cake, banana bread, dan satu loyang cheese cake. Tunggu, gimana kamu bisa tahu namaku?"jawabnya diikuti dengan penasaran.
"Ergh, Peter yang memberitahuku. Dia bilang, kalo Blake datang ke sini tolong bantu dia dengan cakenya ya?"jawabku, gugup, sambil mengarang sebuah cerita yang semoga cukup indah untuk meyakinkannya.
"Oh Peter! Tentu saja. Dan namamu?" Untung dia tidak curiga dengan kegugupanku yang mungkin sudah terwujud dengan sedikit keringat dingin di beberapa bagian mukaku.
"Okay, ayo kita mulai lagi. Namaku Gyna, aku bekerja di sini sudah empat bulan dan kamu Blake kan? Kalo iya, berarti kamu sangat sangat dan sangat berbakat dalam masalah baking,"jawabku lengkap dan memberikan aksen tertarik dengan hobinya.
"Hahaha, terimakasih. Sepulang kerja mampir ke tempatku. Ada kejutan, kalo kamu mau,"ajaknya,tegas, namun dengan tatapan yang sedikit memohon. Kemudian dia mengambil kartu nama dari sakunya. Dihibahkannya kartu tangan itu ke jari - jari tangan kananku. Pipinya bersemu merah. Blake dapat dikatakan menjadi pelengkap senja ini di Coffee Shop Queen.

.............................................................

Mataku masih mengernyap tidak percaya. Hidungku sangat menyukai atmosfer baru ini. Tanganku meraba dengan terbata tiap alat yang ada di sini. Mencoba meyakinkan otak dan hatiku ini nyata. Ini adalah sebuah pabrik yang sangat indah. Pabrik yang dihiasi oleh bahan - bahan untuk membuat kudapan terlezat di dunia. Pabrik yang mungkin hanya berukuran 3 x 4 meter, tetapi sangat memanjakan mata. Ranumnya adonan - adonan yang sedang berada dalam proses mengembang, aromanya beberapa kudapan yang sudah pantas dientaskan dari oven dan pemandangan - pemandangan ajaib lain yang tidak dapat tergambar dengan kata. Ini adalah pabrik yang tidak hanya memedulikan the cost and benefits. Ini adalah pabrik yang menyimpan mimpi dan kebahagiaan empunya. Produksi yang membutuhkan proses dan proses yang membutuhkan perasaan.Perasaan senang dan kegigihan untuk memproduksi hasil akhir yang dapat dikonsumsi langsung oleh penggemarnya. Mungkin penggemarnya hanya sebatas sudut mungil kota New York. Tetapi, proses dan pencapaian akhir yang membutuhkan empati dan simpati lah yang sebanding indahnya dengan surga dunia.
Blake berada di pantry ujung kanan. Dia membuat kudapan, sementara manusia - manusia lain sibuk menikmati rasa dan aromanya. Termasuk manusia - manusia yang biasanya mengunjungi Coffee Shop-ku.
Mataku tidak dapat terlepas dari jari - jari Blake yang asik bermain dengan adonan dan mixer. Dia bahkan tampak tak membutuhkan bantuan. 'Lebih baik aku amati saja dari samping,' pikirku sembari merapatkan diri ke tembok pantry milik Blake. Pabrik kue itu cukup lenggang, hanya ada Blake dan beberapa pantry yang kosong. Kelihaian Blake masih tertangkap jeli mataku. Dari mulia ia mengayak tepung, mencampurnya dengan cream cheese dan sour cream. Beberapa butir telur dan beberapa cup gula sepertinya. Ah, terlalu banyak bahan yang harus aku pelajari. Dengan sergap tangan - tangan Blake seperti serdadu serentak menggantikan pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Hingga akhirnya tangan kanannya menuang adonan ke dalam loyang yang sudah berisi crump. Tampaknya simpel dan tidak begitu kompleks. Tapi, entahlah apa yang terlihat biasanya sering menipu.
"Adonan ini harus dipanggang kurang lebih satu jam. Sebenarnya ada alternatif lain dengan memasukkannya ke kulkas atau no bake cheese cake. Tapi daun maple sudah mulai berubah warna dan angin berhembus lebih dingin, ku rasa cheese cake yang dipanggang lebih enak dan cocok untuk dinikmati," jelasnya panjang lebar dengan mata berbinar dan masih terarah ke loyang yang baru saja dimasukkan ke oven.
"Kamu jago ya?"tegurku sambil tersenyum dan mendekati Blake.
"Hahaha, enggak. Sudah terbiasa. Ibuku meninggalkanku di umur 10 tahun dengan resep - resep kue di depan lemari es. Ayah bekerja dan kemudian aku memutuskan untuk pindah ke kota. Sudah lama rasanya,"timpalnya, menatap lurus ke oven, namun kali ini kosong. Seperti memendam sesuatu.
"Kamu rindu ibumu?"entah kenapa pertanyaan bodoh selalu muncul dari mulutku. Tanpa ba bi bu dan tanpa dipikirkan selalu menjadi suatu hasil yang tidak logis bagi cerita hidupku.
"Hehe. Mungkin. Dia tahu aku cinta kue buatannya dan dia tahu aku bisa membuat kue yang mungkin surga bagi beberapa orang. Aku percaya surga dan aku percaya Ibuku pantas di surga. Ibuku sudah memanjakan aku dan semua keluargaku dengan kue dan kudapan lezatnya. Tuhan pasti sangat menyayanginya. Bahkan dia diminta untuk memasak cheese cake di atas sana,"jawabnya, panjang lebar dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Itu merupakan serangkaian kata dan frase yang mengharukan. Mengharuskan siapapun yang mengucapnya menjadi pribadi yang tegar. Aku tidak percaya sepotong cheese cake memiliki cerita yang sangat kompleks dan bermakna di baliknya. Kemudian perasaan yang serupa aku rasakan ketika cheese cake sudah dikeluarkan dari oven dan didiamkan pada suhu ruangan. Perasaan senang, gembira dan begitu juga dengan aroma yang khas. Ini adalah sumber kebahagiaan. Kudapan dan pembuatnya yang kemudian mungkin menjadi favorit baruku, cheese cake dan Blake.






*Dedicated to Mrs. Sullivan, a culinary art teacher of Sheboygan North High School and you, a cheese cake lover.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Broken Dementia

"Jangan, jangan pergi....," gumamku menggigil di sudut kota London, musim dingin 2012. Dia masih saja ingin beranjak. Aku menggenggam tanganya, erat, seakan - akan jatuhan salju yang ini membenamkan genggamanku saja tak mampu melepaskannya.
"Aku nggak pergi. Kalo kamu butuh aku, kamu bilang," ujarnya. Kepercayaanku diuji. Ini bukan hanya tentang ekspektasi yang digabungkan dengan sejarah. Mengingat Tara selama ini selalu berbohong, mengelabuhi aku dengan leluconnya yang menyakitkan. Entah mengapa aku selalu menganggk dan percaya. Bak perawan yang sangat lugu tak berdaya. Aku tahu. Namun, di dalam, Tara belum tahu aku seperti apa.

Semenjak saat itu Tara tak pernah kembali. Masih segar memoriku tentang malam itu. Aku tersungkur di pinggiran Toko Kue dan menangis, menggigil. Rasa tak karuan menyesaki rongga pernapasanku. Aku pingsan. Ya, begitulah. Aku memang mengidap asma karena faktor keturunan. Sedikit tekanan yang diberikan kepadaku akan berdampak pada hela napasku. Saat Tara meninggalkanku, rasanya aku ingin mencium batu nisan. Ingin meronta - ronta, memohon kepadanya untuk tetap mau dipeluk aku. Hah, percuma. Tara mana mau mengulas kembali keindahan harmonisasi album cerita kami.

"Sayang, jangan melamun. Pikniknya jadi?" ujar lelaki paruh baya mengetuk pikiranku.
"Iya, jadi. Aku nggak mau lama - lama. Dingin di luar," jawabku ketus.
Dengan lembut digandengnya tanganku. Dipapahnya aku menuju ke kehangatan sinar di balik pintu menuju beranda depan. Aku bukan orang tua, pikirku. Lelaki ini mencoba menggantikan Tara dari lipatan kenangannya di otakku. Cih, aku tak pernah mencintainya. Ikatan benang merah yang diikrarkan keluarga memang lebih manjur daripada ujaran tulus hatiku. Aku memang bukan Siti Nurbaya. Namun, ibuku bertingkah bak ibu Siti Nurbaya yang rakus, menjerumuskanku kepada perjodohan sepihak. Hidupku chaos, tidak teratur seperti rasi bintang di Bima Sakti. Kembali kesadaranku dalam genggaman lelaki yang hitam di atas putih adalah suamiku ini. Kami terduduk, bersebelahan, mengadu siku. Namun, sama sekali aku tidak berhasrat untuk mengadu mata. Keheningan kembali menyelimuti kami. Ah, bukan. Keheningan selalu menyelimuti kami. Entah rumah tangga macam apa ini. Sudah berabad - abad tak ada rasa di antara kami.

"Rosa, aku ingin bertanya satu hal,"lelaki ini berujar, membuyarkan pemandangan matahari turun yang sedang aku abadikan dengan kedua bola mataku.
"Apa?" kukembalikan pertanyaan. Nada tanyaku tinggi, seakan aku jurinya dan dia terdakwa.
"Apakah kau mencintaiku?" tanyanya kembali. Pandangannya lurus menatap matahari senja. Pertanyaan yang mungkin tidak sering aku dengar. Bukan pertanyaan klise seorang suami asing yang biasanya menanyakan bagaimana pagiku atau apakah aku ingin mentega di atas roti panggangku.
Hatiku sama sekali tak bingung untuk menjawab. Otakku pun tidak. Mulutku dapat menjawab apa adanya dan ada apanya detik itu juga. Entah mengapa ada yang mencekat di kerongkonganku. Ketika aku melihat linangan air mata jatuh di pipi sebelah kanan suami asingku ini.
"Apa kamu baik - baik saja?" ujarku datar, sok peduli atau memang peduli.

Entah, rasanya ada campuran perasaan baru yang aneh di dadaku. Detak jantungku menjadi berhamburan. Bukan jatuh hati, tetapi aku tak mampu memungkiri rasa ini. Kemudian semuanya tampak jelas, matanya yang cokelat dan berair, bersinar diterpa cahaya matahari senja. Tangannya yang masih menggenggam telapak tanganku pun terasa hangat dan menentramkan. Di jari manisnya terikat cincin kawin kami, cincin emas putih sederhana yang tampaknya tak pernah ia dengan tak setia untuk tanggalkan. Kemudian bagian terapik dari tubuh suamiku yang baru saja aku sadari. Ada lesung pipit di pipinya. Entah bersedih ataupun tertawa, tampaknya dia terlihat bersinar dengan hiasan lesung itu.

Sesaat dia memindahkan arah penglihatannya ke mataku. Dag dig dug, jantungku seperti drum yang ditabuh bersama - sama oleh seribu penabuh drum. 'Aku kenapa?', tanyaku pada diriku sendiri.
Kemudian kata - kata itu pun keluar, muncul entah dari mana sumbernya, memecah ketenangan senja itu. Senja yang asing kemudian berubah menjadi senja yang sepertinya kukenal....
"Iya Tara, aku cinta sama kamu. Maafkan aku kalau aku mencintaimu di dalam keasingan pikiranku. Aku cinta kamu dan aku mohon jaga anak - anak kita," ujarku lembut, melawan arus ingatan yang kemudian kembali keruh karena sindrom dementia.




Sabtu, 03 Agustus 2013

De Javu

Pagi ini ketuk kecil guraman hujan membangunkan lelapku. Aromanya lekat, berbeda dengan udara yang pernah aku hirup. Bukan masalah, toh napasku masih seumuran dengan jiwa muda dunia yang mungkin sempat berlari kelelahan dalam perjuangannya.

Cerita ini hanya sekilas. Sekilas kehidupan yang menjadi bagian dari labirin kehidupan empunya. Bukan curahan, bukan juga buaian. Untuk apa, yang demikian sudah berjubel dan menyesaki dunia.

Adelaide, 2013.
Katanya kamu sudah pergi. Katanya kamu sudah tidak ingin bersua dengan keadaan, kehidupan, dan kenyamanan ini. Kenapa kamu masih di sini? Setia menemani sepi. Melagukan setiap asa yang diam, tak pernah berhenti. Aku harus melangkah kemana?

Yogyakarta, 2012.
Enyah saja kamu. Aku berhak memarahimu dan seisi dunia. Aku berhak. Karena kamu pergi di saat aku memuncaki kenyamananku. Di saat kamu seharusnya memenuhi apa yang kamu janjikan dalam katamu. Kamu datang dan pergi saja sesukamu. Ku tak peduli.

Bangalore, 2012.
Sudah berusaha semampuku. Sudah seperti ini. Kaki ku pun melangkah kemana. Hatiku kemana. Otakku kemana. Semuanya bercecer seperti ekspektasi yang bergumul dengan realita. Ingin kumakan setiap kilometer dan menyublimasikan diri dengan udara, lalu muncul dimanapun aku mau.

Semarang, 2012.
Entahlah, semuanya tiba - tiba menjadi mimpi buruk dan membeku menjadi tak berasa.

Daejeon, 2012.
Sedikit salah kata dan setitik pesan linguistik yang menyebabkan nila setitik rusak susu sebelangga. Tidak segampang itu Tuan. Tidak ada yang menodai sucinya warna putih susu ini. Saya dan kamu sama - sama terperangkap dalam nila dan bermain petak umpet. Menerka siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang menanggung semua.

Semarang, 2011.....

Gadis kecil itu berlari menepikan payungnya, berjuang untuk Tuannya yang entah dia temui dimana. Dia hentikan lariannya. Dia hembuskan sedikit napasnya. Payungnya basah. Ada sedikit lambungan harapan di tepi paru - parunya, mengalir ke sisi jantungnya. Gadis itu jatuh hati.
Dunia tidak dengan begitu menghentikan langkahnya. Resiko dan firasat melebur menjadi satu. Ini bukan tentang payung gadis itu yang rusak diterpa badai.
Kembali gadis itu berlari, berlari, dan menepi. Dipeluknya takdir. Dalam sedetik kemudian takdir bernyanyi, "Ikuti kata hatimu. Hidupmu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan logika. Jadilah gila. Gila yang membuatmu menjadi penuh dengan harapan dan membuat orang sekitarku merasakan musim yang sama denganmu. Musim semi."
Sekejap, hujan reda dan mentari tersenyum. Gadis itu masih menutup pinggiran payungnya dan senyum manis terkembang di ujung bibirnya.