Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Mei 2014

Rahasia Senja


“Heh, peranakan campuran!,” ujar lelaki itu, garang tepat ke arahku.
“Apa sih, kamu? Pergi sana,” sahutku, datar sambil berlalu berusaha tak menghiraukannya.

Sudah sering aku mendapatkan predikat itu; anak campuran, blester, turunan gagal. Dulu, pada awalnya memang aku sempat mengambil pusing itu. Setiap pulang sekolah, selalu menangis di setiap langkah ke rumah. Ibuku bilang mereka hanya anak ingusan yang tidak mengerti betapa cantiknya aku. Hm, bagiku itu hanya hiburan sementara, sifatnya datang dan pergi ketika ibu membelai rambut ke daun telingaku sambil meninabobokanku.

‘Gubrak’ aku terjatuh di kumpulan daun ‘danpung namu’ yang berguguran. Senja di musim gugur selalu mendatangkan keharuan yang tidak dapat digambarkan dengan kata – kata. Kali ini tentu saja konteksnya dengan sakitnya lututku akibat daun musim gugur ini.
“Kamu nggak apa – apa?”seorang pemuda menjulurkan tangannya di hadapan mukaku. Sontak aku yang terkejut, bukannya menyambut tangan pemuda itu justru berjingkat ke belakang. Sedetik kemudian mataku dan matanya beradu. Lelaki ini dalam benakku seseorang yang cukup tampan. Tipe idaman wanita Asia.
“Ah, aku baik – baik saja kok,” ucapku sambil tersenyum. Tangan pemuda ini tetap masih menjulur tak bergeming. Dengan pelan – pelan aku berusaha meraih tangannya. ‘Halus,’ pikirku. Pasti dia anak orang kaya.
“Terimakasih ya,”lanjutku.
“Bukan apa – apa. Sudah hampir malam. Kamu menuju rumah, kan?”tanyanya, sangat ramah. Berbeda sekali dengan teman – teman sekolahku yang sama sekali tak mengerti tentang hubungan antar manusia untuk saling menghormati. Aku semakin gusar apabila mengingat dan membandingkan hal itu dengan pemuda ini.

“Iya. Mau berjalan bersama?”jawabku dengan tanya yang lugas. Aku memang begitu. Buat apa menyembunyikan maksud apabila memang membutuhkan teman untuk berjalan bersama? Diam – diam aku memperhatikannya. Matanya tajam, misterius dengan bola mata hitam, kelam. Entah apa yang disembunyikannya, dia jarang melihat mata lawan bicaranya. Bibirnya oranye, seoranye senja ini, dan seoranye daun musim gugur yang mulai berjatuhan didera angin. Kulitnya, putih, bukan seputih salju, namun seputih langit pagi yang masih berkabut. Aku semakin hanyut dalam lamunanku dan keheningan langkah kaki kami yang berirama.

Kami berhenti di sudut persimpangan ke arah rumahku. Perbincangan kami malam itu hanya sebatas si korban dan penolong saja. Terimakasih senja sudah membuatku mengenal Yang, sekali lagi terimakasih.

.................................................................

Baru beberapa bulan aku menjadi pengguna media sosial Instagram dan sudah banyak jumlah pengikutku. Aku sebenarnya malas mengikuti trend media sosial ini dan harus memposting foto – foto yang ada di galeri gadget-ku. Bermula dari 10 likes, kemudian berlanjut hingga 10ribu dan bahkan 100ribu likes. Memang, tuntutan pekerjaan membuatku harus terus uptodate dengan hal – hal seperti ini. Aku semakin heran, banyak sekali manusia di luar sana yang seperti dimantrai untuk terus terobsesi bermain dengan ini. Sedangkan aku? Tertarik saja tidak.

“Rin, kamu sudah siap naik?”
Okay, hold on a second,”jawabku sambil tersenyum simpul, seraya membenarkan stilleto ku yang masih berbau toko.

Lenggak – lenggok tubuhku menjadi penutup acara internasional pada malam ini. Jepretan kamera di sana – sini melengkapi ketenaran yang mereka bilang tidak akan pernah bersifat selamanya ini. Khalayak bilang aku cantik dan manis. Menurutku itu hanya masalah selera saja. Aku melangkah dengan stilleto ku dan kemudian berhenti di ujung catwalk, membuka jas ku dan membuangnya ke arah kiriku. Sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menghiasi gemerlapnya hidupku. 

..........................................................................

“Aku pulang,” seruku sambil memasuki halaman rumahku. Rumahku terbilang sangat sederhana. Entah mengapa aku menyayanginya. Atmosfer ketenangan yang menyambutku dari pintu gerbang kecil di depan hingga sejuknya tanaman – tanaman yang Ibu rawat, semuanya seakan membuatnya menjadi ‘rumah’ tempatku mengakhiri setiap letihnya hari.
“Ah, anakku,” ujar ibuku, kemudian memelukku terlalu erat hingga napasku tersengal. Kami berbagi tawa dan selalu bersama. Ibuku bekerja dengan tanaman – tanamannya. Dulu ibu bekerja untuk sebuah perusahaan yang meneliti tentang biologi. Namun, kata ibu ada beberapa masalah di perusahaan itu yang membuat ibu tidak betah lagi bekerja di sana. Ibu adalah wanita yang cerdas dan sangat cantik. Ibuku menamaiku seperti nama bunga di Bahasa Jepang, Hana. Kalau di bahasa kami, Hana berarti satu. Kata ibu aku adalah satu – satunya anugerah terindah milik Ibu yang tak akan pernah terganti.
“Nak, ibu membuatkanmu nasi kari di dapur. Maafkan ibu, ibu sudah memakan beberapa bagian. Ibu janji, besok akan ibu buatkan tteopokki, kesukaanmu. Bagaimana?” suara ibu yang sangat lembut selalu berhasil menyejukkan hariku. Kesetiaan tiada tara untuk menyayangiku dan memenuhi hariku dengan keindahan menjadi teladan tersendiri yang tak akan pernah aku lupakan. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini terimakasih untuk ibu. Selalu.

..................................................................................

“Halo Rin, ayo masuk mobil. Kita makan siang ya nak,”papaku membukakan pintu mobil untuk mempersilakanku masuk.
“Terimakasih Pah. Makanan apa siang ini? Teopokki kah?” ujarku sambil tersenyum lebar. Aku yakin papaku pasti tahu seberapa lebar senyumku siang itu.
“Hahaha, baiklah,” ujar papaku datar, namun kemudian menyungging senyumnya.

Sudah lama aku tak bertemu papa minggu ini. Kepadatan jadwalku dan kepadatan jadwal papa membuat kami jarang bertemu. Akhirnya siang ini, keberuntungan mendatangi kami dan kami pun menyempatkan diri untuk makan siang.

‘Mas-issneun teopokki’ sebuah papan restoran yang memang menjadi langganan kami. Kata papa, dulu ini restoran kesukaan mama. Aku pun selalu merasakan kehadiran mama ada di tengah – tengah kami ketika kami makan di sini. 

“Kamu tahu, Rin? Di restoran ini kami melangsungkan pernikahan singkat kami. Di restoran ini, papa memeluk mamamu karena papa tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang disayangi. Nenek kamu meninggal satu hari sebelum pernikahan kami, menguak duka yang sudah lama sekali terpendam,” kembali lagi papa bercerita tentang bagaiman restoran ini sangat berharga bagi keluarga kami.
Seusai makan aku berkeliling restoran seperti biasa. Mengapa mereka tidak membeli restoran ini saja kalau memang restoran ini begitu berharga? Lalu, duka apa yang papa selalu bicarakan tiap kali kami ke sini. Aku berjalan ke arah dapur. Baru kali ini aku berjalan ke dapur. Baunya semerbak, wangi, khas ginseng. Aku terheran – heran ketika memasuki pintu dapur. Begitu banyak staff yang bekerja bagi restoran ini, pantas saja lezat masakannya. Kemudian seorang lelaki berjalan ke arahku. Sepertinya dia orang penting. Beliau tersenyum, sangat manis meskipun banyak keriputnya yang mulai merajai wajahnya. ‘Ah, pasti beliau bukan orang lokal’, pikirku setelah melihat mata biru dan postur tubuhnya.
Beliau kemudian berkata, “Apa kabar kesayanganku, Rin?”

Rabu, 28 Agustus 2013

Sad Ending Story (Rope Hopes for Sailor Man)

"Honey, are you ready for the bed time?," my mother pulled up my blanket, putting her legs next to mine.
She is such a warming heart, the one with charming bonus. I love my mother very much. It was very cold winter night since I remember everything was dawn before I expected and I had to run miles to catch the bus home. I was in the middle periods of my elementary school. Things were a lot more nicer back then. You have tons of friends who wouldn't even look down on you. You have fun things to do and certainly you have sweet things to chew. I was 8 years old. Habitual issue was my mother happened to set me before going to bed and had a chat with me over half of night until I fell a sleep. Just like this winter night, she's about to tell me stories. Piles of stories in her memory I reckon. In fact, listening to her stories was beyond favorite to my life.
"Yes I am ready mommy. No, actually nope. After you send me bed time prayer and you hug me while I sleep and before you have to tell me story," I grinned a little. My eyelashes were put up and down as she looked at me calmly.
"Well, once upon a time. Wait a second, what kind of story do you want? Scary? Booooo...,"she teased me as I giggled and put my head inside of my blankie.
"Noooo mother. I want a great one, the one that will remember the rest of my life,"I answered as I looked at the windows across my bed. It was actually a clear night. I barely see the snows or drizzles.
"Well, honey. This one is special. Would you promise mother before I tell you the stories?"she winked a little. Then she smiled as I saw some wrinkles on her face. She was aging. I'm the only child of the family, but I am a very happily spoiled child since my mother is number one in the whole wide universe. I think that is universal point that everybody can generally say, isn't it?
"I promise mom. I do, I will keep the story inside of my memory. Amen,"
"Honey, are you saying prayer or what? My little honey. You've grown up. Here, once upon a story, there was a very very brave sailor. He sailed to most of the lands all over the maps. He was very brave, enthusiastic, amazing, and quite handsome."
"Is he like Poppeye Mom?"I sneaked question in the middle of her story. I knew she wouldn't like that. I had no idea why I kept on doing that since I was born. Sneaking to her life, keep her emotion sort of mad but in a happy way.
"No, wait, you know the rule, don't disturb mom when I'm telling you story,"Mom was pretending to be mad at me. Ofcourse I knew that. I gave her a sweet apology and she continued her story.

.....................................................
A sailorman, named  Bryan, has touched a shoreline of Everland. Every time he put his feet on the ground after a long journey of sailing, he always was the first time who was seen by most women after the ocean as the Great. He is indeed charming and quite marvelous in his look. There was no doubt that he would not find any woman who would not fall in love with him. His love life is quite melancholy and yet dramatic. He has not found the one as he expected. He thinks that this special woman does not exist and probably out of reach somewhere within border he has not sailed yet. In which, he turned out as the perfect prince whose heart is not taken yet.
Skip to the part when something was falling into him. You did not misread that part, yes it was "something" instead of "someone". Bryan had a little secret that finally I have to tell you, so the story can be finished. Anyway this handsome and demanding sailorman kept his secret, so nobody would follow. He had this rope that he tightened up to shore part, so his ship was not blown by the wind. The rope has been accompanying Bryan's journey for about 15 years. Quite long time to be together and quite amazing if you interpret this as a relationship between human. Long story short, rope is magically and eventually not a really rope. It contains magics in it and shhhh Bryan did not even know that. All he knew that the rope was his lucky charm.
One day when Bryan was off in Everland and dedicated his life to sell some resources that he got while he was sailing. The rope made its wish, the most gigantic wish that has ever known. The rope was falling in love with sailorman for all these years they were together. And what made it so tough until it was unbreakable was her love to the sailor. It was vivid to the rope if it could transform to human being. The rope actually sang a song about her hope and wish every time sailor left her tightened to the shoreline.

"Wondering, if this might lead to happy ending.
Or is this just another left out wishing.
I might be dying, I might be breaking.
If in the end, sailor comes to marry a friend."

Surprisingly after she finished up the last line of her song. She magically was transformed into a beautiful young lady. She had no idea what happened and so had Bryan, because at that moment Bryan happened to get back from the city.
"Who, whoo are you?"Bryan seemed confused. He was still conscious, though. Well, he is a sailorman.
"I'm, emm, I'm,"the rope had no idea what to do. It was pretty reluctant to her to actually convey and confess what happened. Sailorman might faint overall.
"Are you a thief?"asked Bryan and prepared to do karate on the rope.
"Nooo. Obviously no. I am Ropa. I am a woman of Everland. I swam and I had no idea where to go since my family left me behind,"explained the ropa who is now eventually and officially becoming Ropa.
"That's odd. I've never seen a woman like you before,"said Bryan as he indicated that he fell into Ropa as well.

Finally. they fell in love and they got together, until Bryan realize that he found the one. They lived happily ever not after apparently. Unfortunately a huge storm came to Everland after the change of climate that happened recently. Bryan tried to find his rope since he did not want to actually go until he married to Ropa.
Bryan and his crews might die whipped by the winds and storms if the rope was not found.
Ropa ended up wishing that she could help the man she loved. She was transformed into a rope again, an old bulky rope. Bryan wouldn't marry a rope, would he?
Ropa was gone, the rope was found. Bryan grabbed rope and tightened it up to the shoreline. Bryan was overwhelmed now looking for Ropa. Ropa was not there. The pretty women that he had delusion on has gone. It was a good atmosphere of love that turned to disaster since Bryan was looking for real woman, not a rope who would sacrifice its life accompanying mighty sailor man life for years and even decades or centuries.
In the end, the storm was cleaned out by sunshine and the lust was staying there at Bryan's heart in memorizing his perfect woman that eventually did not come to reality. Ropa or the rope broke herself little by little. She loosen up as the ship was pushed away by the wind. She was broken into pieces as she knew it was out of reach love.


........................................................................

I cried too hard. I never knew such a sad story like that. Why mother told me that kind of story? Why?
"Hannah, do you know why mom tell you a non - happy ending story?"
I shook my head. I kept on crying. Down deep inside I knew what he was going to tell me. But, I was 8 years old. I was reckless to even know what happened to my friend who was crying because she wanted lollypop while instead she wanted attention. I thought every fairy tale or tales or bed time stories are supposed to be happy ending.
 "Hannah, no story has an ending yet. Not until the reader or, in this story is the listener choose what he or she will look upon it. A new learning or a sad ending. You choose your type of ending,"she smiled, the best kind of smile that I have ever seen, followed by some tears down her right cheek.
"You are a brave woman-soon-to-be. You know what you should look at, do you? Real love will stay even after ages and ages. Rope was brave to let him go and in other hand she has to deal with herself. She was torn apart,"she kept on putting words, passages, any quotes that she found the best to represent that sad ending story. We cried together.
"Hannah, do you know who the sailor is?"my mother wiped out the tears and tried to cherish me with forced smile. I know finally I had to face it. I had to be brave enough to face it.
"Father,"I answered and I was brave to say it out loud.







*For those who love the most but still hope to get notice; 'the most immortal love is unrequited love, out of reach love'.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Broken Dementia

"Jangan, jangan pergi....," gumamku menggigil di sudut kota London, musim dingin 2012. Dia masih saja ingin beranjak. Aku menggenggam tanganya, erat, seakan - akan jatuhan salju yang ini membenamkan genggamanku saja tak mampu melepaskannya.
"Aku nggak pergi. Kalo kamu butuh aku, kamu bilang," ujarnya. Kepercayaanku diuji. Ini bukan hanya tentang ekspektasi yang digabungkan dengan sejarah. Mengingat Tara selama ini selalu berbohong, mengelabuhi aku dengan leluconnya yang menyakitkan. Entah mengapa aku selalu menganggk dan percaya. Bak perawan yang sangat lugu tak berdaya. Aku tahu. Namun, di dalam, Tara belum tahu aku seperti apa.

Semenjak saat itu Tara tak pernah kembali. Masih segar memoriku tentang malam itu. Aku tersungkur di pinggiran Toko Kue dan menangis, menggigil. Rasa tak karuan menyesaki rongga pernapasanku. Aku pingsan. Ya, begitulah. Aku memang mengidap asma karena faktor keturunan. Sedikit tekanan yang diberikan kepadaku akan berdampak pada hela napasku. Saat Tara meninggalkanku, rasanya aku ingin mencium batu nisan. Ingin meronta - ronta, memohon kepadanya untuk tetap mau dipeluk aku. Hah, percuma. Tara mana mau mengulas kembali keindahan harmonisasi album cerita kami.

"Sayang, jangan melamun. Pikniknya jadi?" ujar lelaki paruh baya mengetuk pikiranku.
"Iya, jadi. Aku nggak mau lama - lama. Dingin di luar," jawabku ketus.
Dengan lembut digandengnya tanganku. Dipapahnya aku menuju ke kehangatan sinar di balik pintu menuju beranda depan. Aku bukan orang tua, pikirku. Lelaki ini mencoba menggantikan Tara dari lipatan kenangannya di otakku. Cih, aku tak pernah mencintainya. Ikatan benang merah yang diikrarkan keluarga memang lebih manjur daripada ujaran tulus hatiku. Aku memang bukan Siti Nurbaya. Namun, ibuku bertingkah bak ibu Siti Nurbaya yang rakus, menjerumuskanku kepada perjodohan sepihak. Hidupku chaos, tidak teratur seperti rasi bintang di Bima Sakti. Kembali kesadaranku dalam genggaman lelaki yang hitam di atas putih adalah suamiku ini. Kami terduduk, bersebelahan, mengadu siku. Namun, sama sekali aku tidak berhasrat untuk mengadu mata. Keheningan kembali menyelimuti kami. Ah, bukan. Keheningan selalu menyelimuti kami. Entah rumah tangga macam apa ini. Sudah berabad - abad tak ada rasa di antara kami.

"Rosa, aku ingin bertanya satu hal,"lelaki ini berujar, membuyarkan pemandangan matahari turun yang sedang aku abadikan dengan kedua bola mataku.
"Apa?" kukembalikan pertanyaan. Nada tanyaku tinggi, seakan aku jurinya dan dia terdakwa.
"Apakah kau mencintaiku?" tanyanya kembali. Pandangannya lurus menatap matahari senja. Pertanyaan yang mungkin tidak sering aku dengar. Bukan pertanyaan klise seorang suami asing yang biasanya menanyakan bagaimana pagiku atau apakah aku ingin mentega di atas roti panggangku.
Hatiku sama sekali tak bingung untuk menjawab. Otakku pun tidak. Mulutku dapat menjawab apa adanya dan ada apanya detik itu juga. Entah mengapa ada yang mencekat di kerongkonganku. Ketika aku melihat linangan air mata jatuh di pipi sebelah kanan suami asingku ini.
"Apa kamu baik - baik saja?" ujarku datar, sok peduli atau memang peduli.

Entah, rasanya ada campuran perasaan baru yang aneh di dadaku. Detak jantungku menjadi berhamburan. Bukan jatuh hati, tetapi aku tak mampu memungkiri rasa ini. Kemudian semuanya tampak jelas, matanya yang cokelat dan berair, bersinar diterpa cahaya matahari senja. Tangannya yang masih menggenggam telapak tanganku pun terasa hangat dan menentramkan. Di jari manisnya terikat cincin kawin kami, cincin emas putih sederhana yang tampaknya tak pernah ia dengan tak setia untuk tanggalkan. Kemudian bagian terapik dari tubuh suamiku yang baru saja aku sadari. Ada lesung pipit di pipinya. Entah bersedih ataupun tertawa, tampaknya dia terlihat bersinar dengan hiasan lesung itu.

Sesaat dia memindahkan arah penglihatannya ke mataku. Dag dig dug, jantungku seperti drum yang ditabuh bersama - sama oleh seribu penabuh drum. 'Aku kenapa?', tanyaku pada diriku sendiri.
Kemudian kata - kata itu pun keluar, muncul entah dari mana sumbernya, memecah ketenangan senja itu. Senja yang asing kemudian berubah menjadi senja yang sepertinya kukenal....
"Iya Tara, aku cinta sama kamu. Maafkan aku kalau aku mencintaimu di dalam keasingan pikiranku. Aku cinta kamu dan aku mohon jaga anak - anak kita," ujarku lembut, melawan arus ingatan yang kemudian kembali keruh karena sindrom dementia.




Jumat, 05 Juli 2013

Behind Tragedy, There Exists Love Story

"In every level of disaster or any kind of war, there exists the love story behind."

Lagi dan lagi, masalah cinta. Klise, kayak Cu Pat Kai. Memang sih, tapi justru ini yang selalu nggak pernah kuno dimakan jaman dan detik jarum jam yang ada di dinding. Entah mengapa seni dengan afeksi yang lebih riil memang menjadi senjata ampuh untuk memicu sensitivitas saya. Baru saja saya sekilas menonton bagian film Pearl Harbour dan kemudian saya tertegun. Kenapa ada sisipan cerita cintanya? Kenapa harus cerita cinta? Ini kan tentang perang?

Kemudian saya teringat beberapa waktu lalu ketika menonton Troy dan menyadari bahwa selain memang dikarenakan "national interests", hal - hal sekecil kaburnya si permaisuri karena cinta menjadi alasan kenapa perang itu muncul. Bagaimana dengan Titanic? Ingat adegan dimana ada pasangan kakek dan nenek berpelukan sementara kapal Titanic sudah akan tenggelam? Atau Rose yang masih mengingat Jack walaupun sudah terlampau tahun? Mungkin karya Nicholas Sparks juga dapat kembali dijejaki. Hampir di setiap ceritanya tersimpan tragedi yang cukup tragis untuk disandingkan dengan kisah cinta. Tetapi, toh tetap saja sah dan justru mampu memeras air mata pembaca. Masih segar ingatan saya ketika "teenlit" menjadi bacaan jempolan remaja. Cerita - cerita yang tragis dan kemudian dihiasi dengan cerita cinta justru yang mampu mengambil hati setiap anaknya.

Terkadang saya memang kurang kerjaan bahkan hal - hal seklise dan kecil ini pun ikut dipikirkan, tetapi mungkin kembali lagi kita bisa merenungkan. Di setiap cerita yang tragis pasti tersimpan cerita cinta di dekatnya. Tidak peduli betapa kompleks ataupun klise, itu tetap cerita cinta. Buktinya, FTV saja masih eksis bukan? ;)

Kamis, 16 Mei 2013

5 Languages of Love

Bahasa. Menjadi sebuah media, koneksi bagi orang - orang yang ingin berbicara, mencoba mendengarkan, atau bahkan dimengerti. Sempat terbesit bagaimana jika kamu suka seseorang? Atau bahkan sayang? Dengan bahasa apa kamu mengutarakannya? Bagaimana kamu menunjukkannya? Apakah kamu berekspektasi untuk mendapatkan balasan?

Mengutip dari sebuah bacaan yang kemudian kembali disadur (lagi dan lagi) oleh seorang teman saya. Kemudian saya merasa cukup penting untuk membahasakan topik ini via blog. Dapat dikonsumsi siapa saja dan ya, gratis. Topik posting kali ini berkaitan dengan bahasa yang mungkin berbeda dari Bahasa Indonesia ataupun Jawa ataupun Swahili. Bahasa yang mungkin masih berkaitan dari personal masing - masing individu dan cukup dikarakterisasikan melalui kelima bahasa ini.

Bahasa cinta, lima bentuk bahasa yang dimiliki setiap orang. Saya, kamu, semua orang pasti akan terpikir kemudian setelah tahu tentang lima bahasa cinta.

1. Bahasa sentuhan
Sentuhan menjadi sebuah cara bagi orang ini untuk mengutarakan cintanya. Hugging, kisses, touching hands, cuddling, dan apapun yang berbentuk sentuhan menjadi sebuah afeksi yang paling penting bagi orang ini. Orang dengan bahasa sentuhan mengharapkan kembali disentuh oleh orang yang dia cintai.

2. Bahasa hadiah
Gift menjadi sebuah hal yang penting dalam hubungan. Orang dengan bahasa cinta hadiah akan memberikan cukup banyak hadiah karena ia merasa dengan cara itulah dia dapat mengkomunikasikan cintanya. Dia pun akan senang jika diberi hadiah oleh orang yang dia sayang.

3. Bahasa waktu berkualitas
Mungkin bukan kuantitas dari waktu yang dia butuhkan, tetapi kualitas. Orang dengan bahasa cinta waktu berkualitas akan mengalokasikan waktunya untuk orang yang dia sayang. Dia juga berekspektasi untuk mendapatkan hal yang sama dari orang tersebut. 

4. Bahasa service
Kamu mungkin senang dimanjakan. Dibuatkan kopi di pagi hari. Dimasakkan, diantar dan jemput, atau dibukakan pintu ketika keluar dari mobil. Kalau iya, berarti kamu adalah orang dengan bahasa cinta service. Ini berarti kamu simply merasa bahwa melakukan sesuatu untuk orang yang kamu sayang berarti adalah perwujudan cinta yang cukup riil dan berharap hal yang sama dari orang yang disayangi.

5. Bahasa pujian
"Kamu yang terhebat", "kamu yang paling mampu mengerti saya", dan sebagainya menjadi contoh dari orang dengan bahasa cinta pujian. Pujian menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan dalam level intensitas yang cukup tinggi. Tanpa pujian, hubungan dengan orang yang disayang terasa hambar dan kurang.


Kelima bahasa cinta di atas berlaku bagi semua orang. Setiap individu mungkin merasakan lebih dari satu bahasa dan bahasa yang paling dominan adalah salah satu hal yang perlu dicatat. Why? Karena dengan mengertinya kamu tentang bahasa cintamu atau bahasa cinta orang yang kamu sayang, kamu bisa tahu bagaimana untuk mengerti orang tersebut dan juga dapat menemukan titik temu dalam masalah yang kalian hadapi. Once again, semuanya tergantung dari kamu. Ready to show your love? ;)

Sabtu, 23 Februari 2013

The Best Does Not Always Come Twice


Coba pejamkan matamu dan temui takdirmu...

Bagaimana kalau cinta sejatimu adalah orang berkulit hitam dan kamu adalah “that Asian minded”?
Bagaimana kalau cinta di masa depanmu adalah orang yang mengidap “down syndrome”?
Atau bagaimana kalau cintamu kandas karena perbedaan jalur hidup dan mati?

Tidak. Tidak segampang itu berdamai dengan realita dan mencoba tidak untuk menampik fakta. Toh, buktinya saya masih saja berkutat dengan keramaian hidup dan tersenyum kepada keramahan matahari senja. Saya juga masih mencoba untuk menelan bulat – bulat fakta bahwa sudah minggu kedua saya kembali mengikrarkan diri di jalur akademis, lagi. 

Kemudian setelah melihat sebuah film yang diangkat dari lima cerpen karya seorang penulis terkenal di Indonesia, saya kemudian kembali menimbang – nimbang masa lalu, kini, dan depan. Refleksi diri dan hati, sesekali. 

Hingga suatu detik, seorang teman bertanya kepada saya “Kalau misalnya kamu dicintai oleh dua orang yang normal dan tidak. Yang mana yang akan kamu pilih?”
Jawab saya, “yang tidak.”
Mencari sensasi? Bukan.
Cinta itu kadang menipu. Kamu tidak akan menyangka siapa yang akan kamu cintai akhirnya. Mungkin ketika kamu sadar kalau kamu cinta dia, dia sudah lama memilih untuk menjauhi takdir kalian. 

Saya hanya ingin memperlihatkan dan berdedikasi sebagai seorang yang mampu menjaga hati seorang yang tidak normal ini. Mungkin banyak kekurangan yang membuat saya ketar – ketir dengan tamparan komentar massa. Tetapi, bukankah cinta itu tidak mengenal ras ataupun warna kulit? Lalu kemudian mengapa menjadi sebuah masalah ketika harus mencintai seseorang yang berbeda? Mengapa kemudian manusia dibutakan oleh kelebihan daripada mendengar kekurangan?

Mungkin manusia terlalu naif mengatakan bahwa cinta itu mulia dan tidak mengenal rupa, toh pada akhirnya masih banyak manusia yang lebih memilih masalah rupa daripada hati. Mungkin kecukupan hati menjadi sebuah keserakahan nafsu yang tidak akan pernah terpenuhi secara nyata. Bukankah biasanya ketulusan itu disadari ketika ia mulai lekas hilang dari sudut ia memandang?


“Sometimes when you realize that your keeper is long-gone, you’re still staying there, hoping the better one will eventually come. Somehow the best does not always come twice.”




p.s. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya :) 

Selasa, 17 April 2012

Just Some Words to Start All Over Again

Finally!
It's been very and quite long time, I haven't updated on my old blog. And when I re-read everything. It's kinda cheesy and nausy, so yes I decided to embrace the new fact that I should really make a new blog. Well, this amazing-brandnew-blog (amen to that) is very different compares to other journals of life or such things (e.g. diary), but in the end it might be similar because this blog contains all of the craziness an stupidities that I usually do in my life (I eat, I love, I jump, I breathe - but might be differently to the others :p). But yeah, please forget the fact that this blog might be a little narcissistic, and another please to remember that people should share about their stories and this blog will do its job to tell you about my daily stories (could have its ups and downs or should have its boredom and excitements), my moments (you know when I get nothing to do, this could be a good media to kill those times), and the information that I have (I'm not a secret agent, but I do will tell you every possibly great infos to share). 
Gosh, I seem to be nervous by the time I type all of these words.   
So, go nuts and happy blogging, for me and for you all! :)