Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Mei 2014

Rahasia Senja


“Heh, peranakan campuran!,” ujar lelaki itu, garang tepat ke arahku.
“Apa sih, kamu? Pergi sana,” sahutku, datar sambil berlalu berusaha tak menghiraukannya.

Sudah sering aku mendapatkan predikat itu; anak campuran, blester, turunan gagal. Dulu, pada awalnya memang aku sempat mengambil pusing itu. Setiap pulang sekolah, selalu menangis di setiap langkah ke rumah. Ibuku bilang mereka hanya anak ingusan yang tidak mengerti betapa cantiknya aku. Hm, bagiku itu hanya hiburan sementara, sifatnya datang dan pergi ketika ibu membelai rambut ke daun telingaku sambil meninabobokanku.

‘Gubrak’ aku terjatuh di kumpulan daun ‘danpung namu’ yang berguguran. Senja di musim gugur selalu mendatangkan keharuan yang tidak dapat digambarkan dengan kata – kata. Kali ini tentu saja konteksnya dengan sakitnya lututku akibat daun musim gugur ini.
“Kamu nggak apa – apa?”seorang pemuda menjulurkan tangannya di hadapan mukaku. Sontak aku yang terkejut, bukannya menyambut tangan pemuda itu justru berjingkat ke belakang. Sedetik kemudian mataku dan matanya beradu. Lelaki ini dalam benakku seseorang yang cukup tampan. Tipe idaman wanita Asia.
“Ah, aku baik – baik saja kok,” ucapku sambil tersenyum. Tangan pemuda ini tetap masih menjulur tak bergeming. Dengan pelan – pelan aku berusaha meraih tangannya. ‘Halus,’ pikirku. Pasti dia anak orang kaya.
“Terimakasih ya,”lanjutku.
“Bukan apa – apa. Sudah hampir malam. Kamu menuju rumah, kan?”tanyanya, sangat ramah. Berbeda sekali dengan teman – teman sekolahku yang sama sekali tak mengerti tentang hubungan antar manusia untuk saling menghormati. Aku semakin gusar apabila mengingat dan membandingkan hal itu dengan pemuda ini.

“Iya. Mau berjalan bersama?”jawabku dengan tanya yang lugas. Aku memang begitu. Buat apa menyembunyikan maksud apabila memang membutuhkan teman untuk berjalan bersama? Diam – diam aku memperhatikannya. Matanya tajam, misterius dengan bola mata hitam, kelam. Entah apa yang disembunyikannya, dia jarang melihat mata lawan bicaranya. Bibirnya oranye, seoranye senja ini, dan seoranye daun musim gugur yang mulai berjatuhan didera angin. Kulitnya, putih, bukan seputih salju, namun seputih langit pagi yang masih berkabut. Aku semakin hanyut dalam lamunanku dan keheningan langkah kaki kami yang berirama.

Kami berhenti di sudut persimpangan ke arah rumahku. Perbincangan kami malam itu hanya sebatas si korban dan penolong saja. Terimakasih senja sudah membuatku mengenal Yang, sekali lagi terimakasih.

.................................................................

Baru beberapa bulan aku menjadi pengguna media sosial Instagram dan sudah banyak jumlah pengikutku. Aku sebenarnya malas mengikuti trend media sosial ini dan harus memposting foto – foto yang ada di galeri gadget-ku. Bermula dari 10 likes, kemudian berlanjut hingga 10ribu dan bahkan 100ribu likes. Memang, tuntutan pekerjaan membuatku harus terus uptodate dengan hal – hal seperti ini. Aku semakin heran, banyak sekali manusia di luar sana yang seperti dimantrai untuk terus terobsesi bermain dengan ini. Sedangkan aku? Tertarik saja tidak.

“Rin, kamu sudah siap naik?”
Okay, hold on a second,”jawabku sambil tersenyum simpul, seraya membenarkan stilleto ku yang masih berbau toko.

Lenggak – lenggok tubuhku menjadi penutup acara internasional pada malam ini. Jepretan kamera di sana – sini melengkapi ketenaran yang mereka bilang tidak akan pernah bersifat selamanya ini. Khalayak bilang aku cantik dan manis. Menurutku itu hanya masalah selera saja. Aku melangkah dengan stilleto ku dan kemudian berhenti di ujung catwalk, membuka jas ku dan membuangnya ke arah kiriku. Sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menghiasi gemerlapnya hidupku. 

..........................................................................

“Aku pulang,” seruku sambil memasuki halaman rumahku. Rumahku terbilang sangat sederhana. Entah mengapa aku menyayanginya. Atmosfer ketenangan yang menyambutku dari pintu gerbang kecil di depan hingga sejuknya tanaman – tanaman yang Ibu rawat, semuanya seakan membuatnya menjadi ‘rumah’ tempatku mengakhiri setiap letihnya hari.
“Ah, anakku,” ujar ibuku, kemudian memelukku terlalu erat hingga napasku tersengal. Kami berbagi tawa dan selalu bersama. Ibuku bekerja dengan tanaman – tanamannya. Dulu ibu bekerja untuk sebuah perusahaan yang meneliti tentang biologi. Namun, kata ibu ada beberapa masalah di perusahaan itu yang membuat ibu tidak betah lagi bekerja di sana. Ibu adalah wanita yang cerdas dan sangat cantik. Ibuku menamaiku seperti nama bunga di Bahasa Jepang, Hana. Kalau di bahasa kami, Hana berarti satu. Kata ibu aku adalah satu – satunya anugerah terindah milik Ibu yang tak akan pernah terganti.
“Nak, ibu membuatkanmu nasi kari di dapur. Maafkan ibu, ibu sudah memakan beberapa bagian. Ibu janji, besok akan ibu buatkan tteopokki, kesukaanmu. Bagaimana?” suara ibu yang sangat lembut selalu berhasil menyejukkan hariku. Kesetiaan tiada tara untuk menyayangiku dan memenuhi hariku dengan keindahan menjadi teladan tersendiri yang tak akan pernah aku lupakan. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini terimakasih untuk ibu. Selalu.

..................................................................................

“Halo Rin, ayo masuk mobil. Kita makan siang ya nak,”papaku membukakan pintu mobil untuk mempersilakanku masuk.
“Terimakasih Pah. Makanan apa siang ini? Teopokki kah?” ujarku sambil tersenyum lebar. Aku yakin papaku pasti tahu seberapa lebar senyumku siang itu.
“Hahaha, baiklah,” ujar papaku datar, namun kemudian menyungging senyumnya.

Sudah lama aku tak bertemu papa minggu ini. Kepadatan jadwalku dan kepadatan jadwal papa membuat kami jarang bertemu. Akhirnya siang ini, keberuntungan mendatangi kami dan kami pun menyempatkan diri untuk makan siang.

‘Mas-issneun teopokki’ sebuah papan restoran yang memang menjadi langganan kami. Kata papa, dulu ini restoran kesukaan mama. Aku pun selalu merasakan kehadiran mama ada di tengah – tengah kami ketika kami makan di sini. 

“Kamu tahu, Rin? Di restoran ini kami melangsungkan pernikahan singkat kami. Di restoran ini, papa memeluk mamamu karena papa tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang disayangi. Nenek kamu meninggal satu hari sebelum pernikahan kami, menguak duka yang sudah lama sekali terpendam,” kembali lagi papa bercerita tentang bagaiman restoran ini sangat berharga bagi keluarga kami.
Seusai makan aku berkeliling restoran seperti biasa. Mengapa mereka tidak membeli restoran ini saja kalau memang restoran ini begitu berharga? Lalu, duka apa yang papa selalu bicarakan tiap kali kami ke sini. Aku berjalan ke arah dapur. Baru kali ini aku berjalan ke dapur. Baunya semerbak, wangi, khas ginseng. Aku terheran – heran ketika memasuki pintu dapur. Begitu banyak staff yang bekerja bagi restoran ini, pantas saja lezat masakannya. Kemudian seorang lelaki berjalan ke arahku. Sepertinya dia orang penting. Beliau tersenyum, sangat manis meskipun banyak keriputnya yang mulai merajai wajahnya. ‘Ah, pasti beliau bukan orang lokal’, pikirku setelah melihat mata biru dan postur tubuhnya.
Beliau kemudian berkata, “Apa kabar kesayanganku, Rin?”

Senin, 26 Agustus 2013

The Secret of Cheese Cake

New York, 10 Desember 2010


"Maaf," ujar seorang pemuda setelah menabrak samping tubuhku. Untung saja aku tidak terhuyung ke segala arah dan membuat onar di tempat kerjaku pagi ini. Aku cukup lihai dengan keseimbangan yang labil.
"Nggak apa - apa. Kiriman? Seperti biasa?" sapaku ke pemuda itu memastikan bahwa tabrakannya tidak mengguncang hidupku seutuhnya.
"Iya, satu loyang Red Velvet dan satu loyang Cheese Cake," jawabnya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.
Sudah lima bulan aku bekerja di Coffee Shop Queen di sudut Kota New York. Hingar bingar kebisingan kota ini sudah bersahabat dengan soreku usai kuliah. Aku harus membiayai hidupku yang tanpa orang tua dengan bekerja di sini. Aku menyukainya. Aku suka aroma kopi. Lembut dan unik. Bisa menipumu terkadang. Sepertinya manis, ternyata pahit dan mengejutkan. Sebenarnya bukan hanya itu saja alasanku bekerja di sini. Aku bukan penggemar kopi tingkat galaksi yang kecanduannya melebihi manusia rehab, yang terlena zat adiktif. Aku lebih kepada status pecinta kopi yang suka melihat orang - orang berlalu lalang untuk mendapatkan kopi favoritnya. Ataupun orang - orang yang menghabiskan waktu berjam - jam di sudut ruangan hanya untuk menikmati kopi senjanya. Lagipula, Rendy harus ke Sudan untuk misi humaniter. Aku yang bukan cenayang pun bahkan sudah mampu berekspektasi kalau dia akan menghabiskan waktu bertahun - tahun di sana. Entahlah, pekerjaan ini sudah paling tepat.

"Gyn, pengunjung sudah menantimu untuk mengantarkan latte nya. Kenapa kamu masih mematung di situ?" kejut seorang pekerja lain bernama Cindy, sambil menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku.
"Oops, maaf. Aku kira aku sedang menikmati kesunyian senja ini,"jawabku asal. Kemudian mengernyitkan dahi ketika tahu bahwa sudah ada manusia - manusia kota yang tak pernah tidur mengantre di Coffee Shop sore ini.

Rutinitas adalah favoritku. Mungkin karena ini rutinitasku dan aku yang berada di dalamnya. Semuanya hanya terasa sangat simpel. Sangat indah karena pikiranku berkata demikian. Aku tak ingin menganggap susah ketika aku masih mampu mendapatkannya. Toh, kuliahku masih saja berjalan dengan mulus tanpa ada celah sedikitpun. 'Perfect!' gumamku sambil memasukkan dollar bergambar Washington ke dalam mesin kasir. Yeah, akhirnya hari lainnya berlalu. Kemudian tatapanku berhenti seketika aku selesai meregangkan tanganku ke atas.
'Itu kan cheese cake yang tadi? Masih sisa? Kok tumben...' pikirku sambil masih menatap nanar cheese cake itu. Bukan, bukan, aku tak lapar. Tadi pun aku sudah makan dengan bekal yang aku buat sendiri di flat. Bukan peanut butter and jelly sih. Terlalu mengenaskan sepertinya jika setiap lunch harus aku habiskan dengan mengonsumsi peanut butter and jelly sandwich.
"Kenapa Gyna? Kamu mau cheese cake itu? Laparkah?"pertanyaan managerku, Peter mengejutkanku.
"Hahaha, Peter! Tentu saja tidak. Mungkin akan sangat lezat jika aku habiskan untuk sarapanku besok pagi dengan kopi Chicory dan musik jazz," jawabku dengan wajah mengejek.
"Hahaha, sebenarnya itu terdengar seperti surga. Kamu harus membawa pulang itu! Cheese cake ini adalah cheese cake paling enak yang ada di New York loh,"kemudian Peter meyakinkanku dan bahkan menyuruhku mengambil cheese cake itu pulang. Entah mengapa aku baru tersadar bahwa aku jarang membeli kudapan dari toko kue ataupun cafe yang ada di kota ini. Yah, tidak begitu terjangkau. Lebih baik aku pergi ke supermarket dan mendapatkan beberapa potong cookies seharga $2.
"Benarkah? Pasti buatanku lebih enak daripada itu Peter,"timpalku sambil setengah memberikan lelucon.
"Well, setahuku tidak ada yang sehebat Blake dalam masalah baking,"jawabnya dan kemudian diakhiri dengan Peter menuju dapur meninggalkanku dalam kebingungan apakah cheese cake gratis ini akan benar - benar berakhir di meja makanku besok pagi.

................................................

Sudah lebih dari empat semester aku belajar di Juliart, tetapi entah mengapa aku semakin yakin bahwa bakat tanpa ilmu pun akan berakhir menjadi sebuah tantangan. Dengan shift pekerjaan yang cukup padat, aku harus pintar membagi waktu kuliah. Terutama ketika bertemu dengan kelas yang sama sekali tidak kamu bayangkan ataupun idamkan. Kemudian, pikiranku melayang ke cheese cake yang tadi pagi aku santap. Rasanya sangat sempurna. Indah sekali ketika aku menyendoknya dan melahapnya dengan perlahan. Sudah berada di kulkas sejak kemarin sore, namun entah kenapa tidak ada yang salah dengan rasanya. Tiap gigitannya lembut dan meleleh di dalam lidah. Serasa dimanjakan, lidahku berteriak mau dan lagi dari dalam otakku. Mengapa selezat itu? Apa rahasianya? Aku sering membuat kue dan baking. Tapi yang ini, seperti ada sentuhan spesial dari pembuatnya. Seperti menyimpan rahasia resep yang mungkin sudah turun temurun diwariskan dari dahulu kala. Hidup memang penuh misteri, seperti cheese cake yang aku makan pagi ini.

Kembali lagi aku di coffee shop dan dengan berbekal senyum merekah aku menyapa setiap pengunjung yang datang sore ini. Aku menjadi semakin yakin bahwa hidupku tidak akan lengkap tanpa menghabiskan waktu sedetik di sini. Dulu aku sempat takut untuk mencoba bekerja dan bergantung pada kakakku. Namun, tampaknya agak tidak adil ketika aku melihat teman - teman lainku bekerja untuk uang saku mereka walaupun mereka masih memiliki kedua orang tua. Sedangkan, aku tidak. Aku juga pasti bisa menjadi dikuatkan dengan pekerjaan dan didorong untuk menjadi semakin mandiri.
Pemuda itu datang lagi. Siapa namanya? Brown? Sesuatu yang diawali dengan B. Namanya sangat kental dengan nuansa New York atau kota - kota besar lain di Negara Paman Sam ini. Blake. Iya benar, Blake.
"Hai Blake, cake apa lagi yang kamu antar hari ini?"tanyaku separuh kegirangan dan berbekal hasrat ingin tahu yang semoga tidak begitu berbau mencurigakan.
"Hai. Aku bawa macaroons, carrot cake, banana bread, dan satu loyang cheese cake. Tunggu, gimana kamu bisa tahu namaku?"jawabnya diikuti dengan penasaran.
"Ergh, Peter yang memberitahuku. Dia bilang, kalo Blake datang ke sini tolong bantu dia dengan cakenya ya?"jawabku, gugup, sambil mengarang sebuah cerita yang semoga cukup indah untuk meyakinkannya.
"Oh Peter! Tentu saja. Dan namamu?" Untung dia tidak curiga dengan kegugupanku yang mungkin sudah terwujud dengan sedikit keringat dingin di beberapa bagian mukaku.
"Okay, ayo kita mulai lagi. Namaku Gyna, aku bekerja di sini sudah empat bulan dan kamu Blake kan? Kalo iya, berarti kamu sangat sangat dan sangat berbakat dalam masalah baking,"jawabku lengkap dan memberikan aksen tertarik dengan hobinya.
"Hahaha, terimakasih. Sepulang kerja mampir ke tempatku. Ada kejutan, kalo kamu mau,"ajaknya,tegas, namun dengan tatapan yang sedikit memohon. Kemudian dia mengambil kartu nama dari sakunya. Dihibahkannya kartu tangan itu ke jari - jari tangan kananku. Pipinya bersemu merah. Blake dapat dikatakan menjadi pelengkap senja ini di Coffee Shop Queen.

.............................................................

Mataku masih mengernyap tidak percaya. Hidungku sangat menyukai atmosfer baru ini. Tanganku meraba dengan terbata tiap alat yang ada di sini. Mencoba meyakinkan otak dan hatiku ini nyata. Ini adalah sebuah pabrik yang sangat indah. Pabrik yang dihiasi oleh bahan - bahan untuk membuat kudapan terlezat di dunia. Pabrik yang mungkin hanya berukuran 3 x 4 meter, tetapi sangat memanjakan mata. Ranumnya adonan - adonan yang sedang berada dalam proses mengembang, aromanya beberapa kudapan yang sudah pantas dientaskan dari oven dan pemandangan - pemandangan ajaib lain yang tidak dapat tergambar dengan kata. Ini adalah pabrik yang tidak hanya memedulikan the cost and benefits. Ini adalah pabrik yang menyimpan mimpi dan kebahagiaan empunya. Produksi yang membutuhkan proses dan proses yang membutuhkan perasaan.Perasaan senang dan kegigihan untuk memproduksi hasil akhir yang dapat dikonsumsi langsung oleh penggemarnya. Mungkin penggemarnya hanya sebatas sudut mungil kota New York. Tetapi, proses dan pencapaian akhir yang membutuhkan empati dan simpati lah yang sebanding indahnya dengan surga dunia.
Blake berada di pantry ujung kanan. Dia membuat kudapan, sementara manusia - manusia lain sibuk menikmati rasa dan aromanya. Termasuk manusia - manusia yang biasanya mengunjungi Coffee Shop-ku.
Mataku tidak dapat terlepas dari jari - jari Blake yang asik bermain dengan adonan dan mixer. Dia bahkan tampak tak membutuhkan bantuan. 'Lebih baik aku amati saja dari samping,' pikirku sembari merapatkan diri ke tembok pantry milik Blake. Pabrik kue itu cukup lenggang, hanya ada Blake dan beberapa pantry yang kosong. Kelihaian Blake masih tertangkap jeli mataku. Dari mulia ia mengayak tepung, mencampurnya dengan cream cheese dan sour cream. Beberapa butir telur dan beberapa cup gula sepertinya. Ah, terlalu banyak bahan yang harus aku pelajari. Dengan sergap tangan - tangan Blake seperti serdadu serentak menggantikan pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Hingga akhirnya tangan kanannya menuang adonan ke dalam loyang yang sudah berisi crump. Tampaknya simpel dan tidak begitu kompleks. Tapi, entahlah apa yang terlihat biasanya sering menipu.
"Adonan ini harus dipanggang kurang lebih satu jam. Sebenarnya ada alternatif lain dengan memasukkannya ke kulkas atau no bake cheese cake. Tapi daun maple sudah mulai berubah warna dan angin berhembus lebih dingin, ku rasa cheese cake yang dipanggang lebih enak dan cocok untuk dinikmati," jelasnya panjang lebar dengan mata berbinar dan masih terarah ke loyang yang baru saja dimasukkan ke oven.
"Kamu jago ya?"tegurku sambil tersenyum dan mendekati Blake.
"Hahaha, enggak. Sudah terbiasa. Ibuku meninggalkanku di umur 10 tahun dengan resep - resep kue di depan lemari es. Ayah bekerja dan kemudian aku memutuskan untuk pindah ke kota. Sudah lama rasanya,"timpalnya, menatap lurus ke oven, namun kali ini kosong. Seperti memendam sesuatu.
"Kamu rindu ibumu?"entah kenapa pertanyaan bodoh selalu muncul dari mulutku. Tanpa ba bi bu dan tanpa dipikirkan selalu menjadi suatu hasil yang tidak logis bagi cerita hidupku.
"Hehe. Mungkin. Dia tahu aku cinta kue buatannya dan dia tahu aku bisa membuat kue yang mungkin surga bagi beberapa orang. Aku percaya surga dan aku percaya Ibuku pantas di surga. Ibuku sudah memanjakan aku dan semua keluargaku dengan kue dan kudapan lezatnya. Tuhan pasti sangat menyayanginya. Bahkan dia diminta untuk memasak cheese cake di atas sana,"jawabnya, panjang lebar dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Itu merupakan serangkaian kata dan frase yang mengharukan. Mengharuskan siapapun yang mengucapnya menjadi pribadi yang tegar. Aku tidak percaya sepotong cheese cake memiliki cerita yang sangat kompleks dan bermakna di baliknya. Kemudian perasaan yang serupa aku rasakan ketika cheese cake sudah dikeluarkan dari oven dan didiamkan pada suhu ruangan. Perasaan senang, gembira dan begitu juga dengan aroma yang khas. Ini adalah sumber kebahagiaan. Kudapan dan pembuatnya yang kemudian mungkin menjadi favorit baruku, cheese cake dan Blake.






*Dedicated to Mrs. Sullivan, a culinary art teacher of Sheboygan North High School and you, a cheese cake lover.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Broken Dementia

"Jangan, jangan pergi....," gumamku menggigil di sudut kota London, musim dingin 2012. Dia masih saja ingin beranjak. Aku menggenggam tanganya, erat, seakan - akan jatuhan salju yang ini membenamkan genggamanku saja tak mampu melepaskannya.
"Aku nggak pergi. Kalo kamu butuh aku, kamu bilang," ujarnya. Kepercayaanku diuji. Ini bukan hanya tentang ekspektasi yang digabungkan dengan sejarah. Mengingat Tara selama ini selalu berbohong, mengelabuhi aku dengan leluconnya yang menyakitkan. Entah mengapa aku selalu menganggk dan percaya. Bak perawan yang sangat lugu tak berdaya. Aku tahu. Namun, di dalam, Tara belum tahu aku seperti apa.

Semenjak saat itu Tara tak pernah kembali. Masih segar memoriku tentang malam itu. Aku tersungkur di pinggiran Toko Kue dan menangis, menggigil. Rasa tak karuan menyesaki rongga pernapasanku. Aku pingsan. Ya, begitulah. Aku memang mengidap asma karena faktor keturunan. Sedikit tekanan yang diberikan kepadaku akan berdampak pada hela napasku. Saat Tara meninggalkanku, rasanya aku ingin mencium batu nisan. Ingin meronta - ronta, memohon kepadanya untuk tetap mau dipeluk aku. Hah, percuma. Tara mana mau mengulas kembali keindahan harmonisasi album cerita kami.

"Sayang, jangan melamun. Pikniknya jadi?" ujar lelaki paruh baya mengetuk pikiranku.
"Iya, jadi. Aku nggak mau lama - lama. Dingin di luar," jawabku ketus.
Dengan lembut digandengnya tanganku. Dipapahnya aku menuju ke kehangatan sinar di balik pintu menuju beranda depan. Aku bukan orang tua, pikirku. Lelaki ini mencoba menggantikan Tara dari lipatan kenangannya di otakku. Cih, aku tak pernah mencintainya. Ikatan benang merah yang diikrarkan keluarga memang lebih manjur daripada ujaran tulus hatiku. Aku memang bukan Siti Nurbaya. Namun, ibuku bertingkah bak ibu Siti Nurbaya yang rakus, menjerumuskanku kepada perjodohan sepihak. Hidupku chaos, tidak teratur seperti rasi bintang di Bima Sakti. Kembali kesadaranku dalam genggaman lelaki yang hitam di atas putih adalah suamiku ini. Kami terduduk, bersebelahan, mengadu siku. Namun, sama sekali aku tidak berhasrat untuk mengadu mata. Keheningan kembali menyelimuti kami. Ah, bukan. Keheningan selalu menyelimuti kami. Entah rumah tangga macam apa ini. Sudah berabad - abad tak ada rasa di antara kami.

"Rosa, aku ingin bertanya satu hal,"lelaki ini berujar, membuyarkan pemandangan matahari turun yang sedang aku abadikan dengan kedua bola mataku.
"Apa?" kukembalikan pertanyaan. Nada tanyaku tinggi, seakan aku jurinya dan dia terdakwa.
"Apakah kau mencintaiku?" tanyanya kembali. Pandangannya lurus menatap matahari senja. Pertanyaan yang mungkin tidak sering aku dengar. Bukan pertanyaan klise seorang suami asing yang biasanya menanyakan bagaimana pagiku atau apakah aku ingin mentega di atas roti panggangku.
Hatiku sama sekali tak bingung untuk menjawab. Otakku pun tidak. Mulutku dapat menjawab apa adanya dan ada apanya detik itu juga. Entah mengapa ada yang mencekat di kerongkonganku. Ketika aku melihat linangan air mata jatuh di pipi sebelah kanan suami asingku ini.
"Apa kamu baik - baik saja?" ujarku datar, sok peduli atau memang peduli.

Entah, rasanya ada campuran perasaan baru yang aneh di dadaku. Detak jantungku menjadi berhamburan. Bukan jatuh hati, tetapi aku tak mampu memungkiri rasa ini. Kemudian semuanya tampak jelas, matanya yang cokelat dan berair, bersinar diterpa cahaya matahari senja. Tangannya yang masih menggenggam telapak tanganku pun terasa hangat dan menentramkan. Di jari manisnya terikat cincin kawin kami, cincin emas putih sederhana yang tampaknya tak pernah ia dengan tak setia untuk tanggalkan. Kemudian bagian terapik dari tubuh suamiku yang baru saja aku sadari. Ada lesung pipit di pipinya. Entah bersedih ataupun tertawa, tampaknya dia terlihat bersinar dengan hiasan lesung itu.

Sesaat dia memindahkan arah penglihatannya ke mataku. Dag dig dug, jantungku seperti drum yang ditabuh bersama - sama oleh seribu penabuh drum. 'Aku kenapa?', tanyaku pada diriku sendiri.
Kemudian kata - kata itu pun keluar, muncul entah dari mana sumbernya, memecah ketenangan senja itu. Senja yang asing kemudian berubah menjadi senja yang sepertinya kukenal....
"Iya Tara, aku cinta sama kamu. Maafkan aku kalau aku mencintaimu di dalam keasingan pikiranku. Aku cinta kamu dan aku mohon jaga anak - anak kita," ujarku lembut, melawan arus ingatan yang kemudian kembali keruh karena sindrom dementia.




Sabtu, 03 Agustus 2013

De Javu

Pagi ini ketuk kecil guraman hujan membangunkan lelapku. Aromanya lekat, berbeda dengan udara yang pernah aku hirup. Bukan masalah, toh napasku masih seumuran dengan jiwa muda dunia yang mungkin sempat berlari kelelahan dalam perjuangannya.

Cerita ini hanya sekilas. Sekilas kehidupan yang menjadi bagian dari labirin kehidupan empunya. Bukan curahan, bukan juga buaian. Untuk apa, yang demikian sudah berjubel dan menyesaki dunia.

Adelaide, 2013.
Katanya kamu sudah pergi. Katanya kamu sudah tidak ingin bersua dengan keadaan, kehidupan, dan kenyamanan ini. Kenapa kamu masih di sini? Setia menemani sepi. Melagukan setiap asa yang diam, tak pernah berhenti. Aku harus melangkah kemana?

Yogyakarta, 2012.
Enyah saja kamu. Aku berhak memarahimu dan seisi dunia. Aku berhak. Karena kamu pergi di saat aku memuncaki kenyamananku. Di saat kamu seharusnya memenuhi apa yang kamu janjikan dalam katamu. Kamu datang dan pergi saja sesukamu. Ku tak peduli.

Bangalore, 2012.
Sudah berusaha semampuku. Sudah seperti ini. Kaki ku pun melangkah kemana. Hatiku kemana. Otakku kemana. Semuanya bercecer seperti ekspektasi yang bergumul dengan realita. Ingin kumakan setiap kilometer dan menyublimasikan diri dengan udara, lalu muncul dimanapun aku mau.

Semarang, 2012.
Entahlah, semuanya tiba - tiba menjadi mimpi buruk dan membeku menjadi tak berasa.

Daejeon, 2012.
Sedikit salah kata dan setitik pesan linguistik yang menyebabkan nila setitik rusak susu sebelangga. Tidak segampang itu Tuan. Tidak ada yang menodai sucinya warna putih susu ini. Saya dan kamu sama - sama terperangkap dalam nila dan bermain petak umpet. Menerka siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang menanggung semua.

Semarang, 2011.....

Gadis kecil itu berlari menepikan payungnya, berjuang untuk Tuannya yang entah dia temui dimana. Dia hentikan lariannya. Dia hembuskan sedikit napasnya. Payungnya basah. Ada sedikit lambungan harapan di tepi paru - parunya, mengalir ke sisi jantungnya. Gadis itu jatuh hati.
Dunia tidak dengan begitu menghentikan langkahnya. Resiko dan firasat melebur menjadi satu. Ini bukan tentang payung gadis itu yang rusak diterpa badai.
Kembali gadis itu berlari, berlari, dan menepi. Dipeluknya takdir. Dalam sedetik kemudian takdir bernyanyi, "Ikuti kata hatimu. Hidupmu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan logika. Jadilah gila. Gila yang membuatmu menjadi penuh dengan harapan dan membuat orang sekitarku merasakan musim yang sama denganmu. Musim semi."
Sekejap, hujan reda dan mentari tersenyum. Gadis itu masih menutup pinggiran payungnya dan senyum manis terkembang di ujung bibirnya.


Jumat, 05 Juli 2013

Behind Tragedy, There Exists Love Story

"In every level of disaster or any kind of war, there exists the love story behind."

Lagi dan lagi, masalah cinta. Klise, kayak Cu Pat Kai. Memang sih, tapi justru ini yang selalu nggak pernah kuno dimakan jaman dan detik jarum jam yang ada di dinding. Entah mengapa seni dengan afeksi yang lebih riil memang menjadi senjata ampuh untuk memicu sensitivitas saya. Baru saja saya sekilas menonton bagian film Pearl Harbour dan kemudian saya tertegun. Kenapa ada sisipan cerita cintanya? Kenapa harus cerita cinta? Ini kan tentang perang?

Kemudian saya teringat beberapa waktu lalu ketika menonton Troy dan menyadari bahwa selain memang dikarenakan "national interests", hal - hal sekecil kaburnya si permaisuri karena cinta menjadi alasan kenapa perang itu muncul. Bagaimana dengan Titanic? Ingat adegan dimana ada pasangan kakek dan nenek berpelukan sementara kapal Titanic sudah akan tenggelam? Atau Rose yang masih mengingat Jack walaupun sudah terlampau tahun? Mungkin karya Nicholas Sparks juga dapat kembali dijejaki. Hampir di setiap ceritanya tersimpan tragedi yang cukup tragis untuk disandingkan dengan kisah cinta. Tetapi, toh tetap saja sah dan justru mampu memeras air mata pembaca. Masih segar ingatan saya ketika "teenlit" menjadi bacaan jempolan remaja. Cerita - cerita yang tragis dan kemudian dihiasi dengan cerita cinta justru yang mampu mengambil hati setiap anaknya.

Terkadang saya memang kurang kerjaan bahkan hal - hal seklise dan kecil ini pun ikut dipikirkan, tetapi mungkin kembali lagi kita bisa merenungkan. Di setiap cerita yang tragis pasti tersimpan cerita cinta di dekatnya. Tidak peduli betapa kompleks ataupun klise, itu tetap cerita cinta. Buktinya, FTV saja masih eksis bukan? ;)

Kamis, 16 Mei 2013

5 Languages of Love

Bahasa. Menjadi sebuah media, koneksi bagi orang - orang yang ingin berbicara, mencoba mendengarkan, atau bahkan dimengerti. Sempat terbesit bagaimana jika kamu suka seseorang? Atau bahkan sayang? Dengan bahasa apa kamu mengutarakannya? Bagaimana kamu menunjukkannya? Apakah kamu berekspektasi untuk mendapatkan balasan?

Mengutip dari sebuah bacaan yang kemudian kembali disadur (lagi dan lagi) oleh seorang teman saya. Kemudian saya merasa cukup penting untuk membahasakan topik ini via blog. Dapat dikonsumsi siapa saja dan ya, gratis. Topik posting kali ini berkaitan dengan bahasa yang mungkin berbeda dari Bahasa Indonesia ataupun Jawa ataupun Swahili. Bahasa yang mungkin masih berkaitan dari personal masing - masing individu dan cukup dikarakterisasikan melalui kelima bahasa ini.

Bahasa cinta, lima bentuk bahasa yang dimiliki setiap orang. Saya, kamu, semua orang pasti akan terpikir kemudian setelah tahu tentang lima bahasa cinta.

1. Bahasa sentuhan
Sentuhan menjadi sebuah cara bagi orang ini untuk mengutarakan cintanya. Hugging, kisses, touching hands, cuddling, dan apapun yang berbentuk sentuhan menjadi sebuah afeksi yang paling penting bagi orang ini. Orang dengan bahasa sentuhan mengharapkan kembali disentuh oleh orang yang dia cintai.

2. Bahasa hadiah
Gift menjadi sebuah hal yang penting dalam hubungan. Orang dengan bahasa cinta hadiah akan memberikan cukup banyak hadiah karena ia merasa dengan cara itulah dia dapat mengkomunikasikan cintanya. Dia pun akan senang jika diberi hadiah oleh orang yang dia sayang.

3. Bahasa waktu berkualitas
Mungkin bukan kuantitas dari waktu yang dia butuhkan, tetapi kualitas. Orang dengan bahasa cinta waktu berkualitas akan mengalokasikan waktunya untuk orang yang dia sayang. Dia juga berekspektasi untuk mendapatkan hal yang sama dari orang tersebut. 

4. Bahasa service
Kamu mungkin senang dimanjakan. Dibuatkan kopi di pagi hari. Dimasakkan, diantar dan jemput, atau dibukakan pintu ketika keluar dari mobil. Kalau iya, berarti kamu adalah orang dengan bahasa cinta service. Ini berarti kamu simply merasa bahwa melakukan sesuatu untuk orang yang kamu sayang berarti adalah perwujudan cinta yang cukup riil dan berharap hal yang sama dari orang yang disayangi.

5. Bahasa pujian
"Kamu yang terhebat", "kamu yang paling mampu mengerti saya", dan sebagainya menjadi contoh dari orang dengan bahasa cinta pujian. Pujian menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan dalam level intensitas yang cukup tinggi. Tanpa pujian, hubungan dengan orang yang disayang terasa hambar dan kurang.


Kelima bahasa cinta di atas berlaku bagi semua orang. Setiap individu mungkin merasakan lebih dari satu bahasa dan bahasa yang paling dominan adalah salah satu hal yang perlu dicatat. Why? Karena dengan mengertinya kamu tentang bahasa cintamu atau bahasa cinta orang yang kamu sayang, kamu bisa tahu bagaimana untuk mengerti orang tersebut dan juga dapat menemukan titik temu dalam masalah yang kalian hadapi. Once again, semuanya tergantung dari kamu. Ready to show your love? ;)

Jumat, 18 Januari 2013

Saya dan Kalian

"People change, only the story of them stay forever."

Masih terhanyut memori tentang kalian, beberapa bulan belakangan. Berseru, mengeluh, dan tertawa bersama menantang tahun pertama jenjang pendidikan baru. Ada haru, ada cerita, ada berbagi di antaranya.

Mata saya terpaku pada secangkir kopi di sisi laptop. Tampak guratan - guratan kecil di permukaannya, menyimpan kegelisahan untuk dirasakan olehnya. 
Kalian, saya, dan kita semua. Ibarat film 5 cm, mungkin sudah separuh mendaki Mahameru tetapi menyerah di tengahnya karena saling berpencar. 
Kalian dan saya. Ibarat Harry Potter, Hermione, dan Ron yang terpecah karena memiliki latar belakang berbeda.
Kalian dan saya, sekarang. Ibarat semua chat yang dilakukan secara virtual. Seakan - akan dekat tapi dipisahkan oleh jarak yang tak terdefinisikan.

Kopi saya sudah mendekati akhir ajalnya. Masih saja saya teringat tentang cerita dan henyak tawa di antara saya dan kalian. Sayang, kerenyahannya telah termakan jarak dan mengumpulkan ketidaknyamanan yang berbeda dengan dulunya. Mungkin bahkan tak pernah berpeluang untuk hinggap menemani sepi lagi.

Ya sudahlah, orang kan berubah. Iya kan? Toh, saya masih dengan bodohnya menunggu kekerabatan itu mekar lagi. Lugu ya, selalu percaya dengan sekecil harapan. Saya dan kalian.

"You may change for I remain the same. Don't worry, best people will stay together."

Minggu, 07 Oktober 2012

The Story of Seoul

As you guys already knew, my second semester has been finished (well, the fact is the grades are not even out yet). Weeks ago before the semester exam itself, I had to face the reality that my journey to another travel will begin. I applied for a summer program which is also partial scholarship (the flight ticket is not included) for the summer holiday. And here we go, two days ago I touched Seoul down!


Seoul as part of South Korea is well - known with its crowd and modern buildings and technologies and sophisticated people that work professionally. First time I got in the Incheon airport was totally unimaginable. I just arrived and it felt like I saw all of those people that are tuned in the Korean drama or band. Gladly, me and Mbak Nisa (one of another UGM student that received the scholarship) got there with two humongous size of luggage. Oh, and just for info my luggage was overweight when they measure it at the local airport in my town Semarang. I was in safe zone though to overcome my not-very-good-situation by upsizing the maximum lbs of my luggage. And yeah, I made it safely from Jakarta - Kuala Lumpur -Seoul.

First day of Seoul

Seoul is a populated by nice people ever :) 
We were out of the bus when finally the bus speaker says something in Korean and then she says "Dongdaemun". To get there all you needed was taking the bus that the transport info center at Incheon suggested us to take. We stopped the bus and we had no idea where to heading. Looking at the map (which is all written in Korean), we were at the end of our hope. Our own journey was totally begun. We asked people around and they responded very well, they tried to find the most accurate information from their galaxy notes, tabs, or even the sIII which is like the most sophisticated one. Anyway, they were failed to give information. I think it was because of the one way communication, you know. Then, there is this old man or "harabuji" that came to us and spoke in English (finally!) He helped us and recommended a different place which he said was a lot better than the place that we booked online. He took us with busway for free and we reached the place. Although, issue came when we had to carry our super duper huge luggage on the stairs. We almost fainted over that, that was pretty painful, and definitely not gonna try that again. Anyway, we got into the place and it was very nice place with one room for both of us and the design of the place was kinda neat because it represents the old style of Korean house in the middle of the downtown. The "harabuji" left us and we gave him food to say thank's. The price to stay for the place was a lot more expensive than the one that we booked. But it was worth it for the free wifi, foods, and kitchen that we used. The lady that take care of the place or the "ahjuman" was very nice too. She'd help us if we found any difficulties (which means a lot).
We got pretty whipped out of the airplane and we got jetlagged, so after we took shower, we straightly went to bed for a couple hours nap. By the evening started to appear, we got up and took a little walk down there. Bytheway, our place was at Pi run dong. There were foods, markets, and shops around the corner. It was a very great place to stay. We finished our pretty long walk and I met lots of people got out at night and got drunk after worked. I think that's one of the common culture there. So, they would be done with drinking and hald-drunkly walking down the streets. That was kind of creepy though. Not like Seoul becoming unsafe. It was still very secured, however when you got that annoyed feeling by weird people around you, yepp that was totally what happened :)

Second day and next days of Seoul Journey

What would we say? Seoul is uh-mazing :)
We spent the next days ahead in Seoul. Visited some places that we could only see in movies before, like Tower, palace, museums. Even when we got into the "green bus" which is typical Korean buses and when we walked down to the small ally by the neighborhood seemed so Korean to us. So mesmerizing we could only say.

The foods are everywhere, though they are not that suitable for our tongues. Let's say the goods one include porks or any kind of things that we're not supposed to have as Muslims. So, apparently we just asked to every kind of vendor or street markets that sold the foods like real tourists "fish?" or often we asked with mimics of the animals. So funny and yet normal, I guess.One day we went to one place for shopping, called Insa-dong. Got so many stuffs and we met a guy who sold cheap stuffs to us and he even gave us discounts for almost everything. So awesome! Once we walked down the street and there were this man selling "dragon beard" food, it was like "kue mochi" in Indonesia. Anyway, this food is good and the way they attract everyone to look at him. He even knew some Bahasa Indonesia which were so making me and Mbak Nisa even more attracted to look at those.

Then we saw a lot of shops for make up and face with the Korean Brand, like Misha, The Face Shop, Etude, and many more. They are pretty cheap compares to the one that they sell in Indonesia. They offered several good deals that women cannot ignore at all. Anyway, haven't I told you yet that Korean girls in Seoul (and even boys) are so sophisticated in dressing? They dress up almost everytime and everywhere. You cannot find simple kind of style once you walk in the Seoul streets. One more thing that attract me the most is the stigma of Koreans who love about appearance, I'd say somehow yes since there are many many mirrors in every possible corner. Can you believe? You don't need to bring any mirror because it's Korea! :D

Last day of Seoul

It was a really great morning after a good sleep that we had in ahjuman's house. Everything was so peaceful until the birds that Ahjuman have for pets are still half-way-awake and did not do chirping at all (they usually do). So, we went into the kitchen and ate bread plus jam for breakfast. What funny since the first day we stayed there was the breads and everything that ahjuman kept on the fridge. It's weird somehow because people hardly put bread in the fridge. Well, but we use toaster afterwards, so yeah I could get along.

Then we spent sometimes in the several places to just had our sorta last walk in Seoul. We already figured out some stuffs like the bus that we should take to train station. Anyway, for the next four weeks I stayed in Daejeon, which was like the fifth biggest city in South Korea. It was like two hours journey with regular train (KORAIL), and one hour if you take the KTX (fast train). I chose the cheaper one, so I went on two hours journey. We stepped out of the Seoul by using train so we went to the station first. It was huge station full of great technologies and people. Many young men were in uniform for the military purpose training. Most of them are either done or almost starting the training, so it was not a huge shock when they met their girls there.

Seoul's street

ahjuman's pet: cute birds :3

A night in Seoul

Some words in Hangul :)

Street markets :D

Ahjuma's house :)

buildings everywhere

Incheon Airport

a shop by the street

me on the plane :)

murky bridge

red palace

a street at night

typical road in Seoul

SEOUL!

night time

the street

just the trees
me, market, and food <3

And there you go, my end of the story about Seoul. Many things happened in only few days. And obviously, more things happened in a month at Daejeon. I'll keep posting more and more. In case, you wanna read it.

Anyway, 감사합니다  and 안녕히 가세요 :)


Hanadia Yurista