Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Januari 2018



Halo dunia

ku ingin sedikit berdansa. 







Dansaku ini tak berima, tetapi dia sarat akan makna. Dansaku ini kadang tajam seperti sebilah pedang milik Si Kejam, namun kadang manis semanis Ghulab Jamun.


Dansa pertama dipenuhi dengan aliran resan. 

Mukaku bermuram durja saat aku kembali mengulik masa lalunya. Aku tak sepantasnya berdansa dalam amarah karena masa lalunya miliknya dan tak berhak aku intervensi mengingat dimensinya yang berbeda. 


Dansa kedua dipenuhi dengan arus lara. 

Aku mengadu kepada langit kenapa hujan harus turun di saat matahari sedang tersenyum? Aku berteriak kepada bumi kenapa harus gempar memarahi kaki - kaki penginjak yang tak tahu permisi ini? 

Dansa pun selesai dengan selesa.


Papa bilang aku harus menata kaki, menyelaraskan dengan hati. Aku masih tidak mengerti. Bukan kaki yang harus aku tata ataupun hati yang harus aku iring dengan nada. Namun, hari - hariku. 

Asaku hampir habis termakan agni. Mataku hampir buta tersilaukan cahaya permata. 
Aku hidup di hari yang salah, Papa.  



Hutan angan, 24 Januari 2017

Sabtu, 03 Agustus 2013

De Javu

Pagi ini ketuk kecil guraman hujan membangunkan lelapku. Aromanya lekat, berbeda dengan udara yang pernah aku hirup. Bukan masalah, toh napasku masih seumuran dengan jiwa muda dunia yang mungkin sempat berlari kelelahan dalam perjuangannya.

Cerita ini hanya sekilas. Sekilas kehidupan yang menjadi bagian dari labirin kehidupan empunya. Bukan curahan, bukan juga buaian. Untuk apa, yang demikian sudah berjubel dan menyesaki dunia.

Adelaide, 2013.
Katanya kamu sudah pergi. Katanya kamu sudah tidak ingin bersua dengan keadaan, kehidupan, dan kenyamanan ini. Kenapa kamu masih di sini? Setia menemani sepi. Melagukan setiap asa yang diam, tak pernah berhenti. Aku harus melangkah kemana?

Yogyakarta, 2012.
Enyah saja kamu. Aku berhak memarahimu dan seisi dunia. Aku berhak. Karena kamu pergi di saat aku memuncaki kenyamananku. Di saat kamu seharusnya memenuhi apa yang kamu janjikan dalam katamu. Kamu datang dan pergi saja sesukamu. Ku tak peduli.

Bangalore, 2012.
Sudah berusaha semampuku. Sudah seperti ini. Kaki ku pun melangkah kemana. Hatiku kemana. Otakku kemana. Semuanya bercecer seperti ekspektasi yang bergumul dengan realita. Ingin kumakan setiap kilometer dan menyublimasikan diri dengan udara, lalu muncul dimanapun aku mau.

Semarang, 2012.
Entahlah, semuanya tiba - tiba menjadi mimpi buruk dan membeku menjadi tak berasa.

Daejeon, 2012.
Sedikit salah kata dan setitik pesan linguistik yang menyebabkan nila setitik rusak susu sebelangga. Tidak segampang itu Tuan. Tidak ada yang menodai sucinya warna putih susu ini. Saya dan kamu sama - sama terperangkap dalam nila dan bermain petak umpet. Menerka siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang menanggung semua.

Semarang, 2011.....

Gadis kecil itu berlari menepikan payungnya, berjuang untuk Tuannya yang entah dia temui dimana. Dia hentikan lariannya. Dia hembuskan sedikit napasnya. Payungnya basah. Ada sedikit lambungan harapan di tepi paru - parunya, mengalir ke sisi jantungnya. Gadis itu jatuh hati.
Dunia tidak dengan begitu menghentikan langkahnya. Resiko dan firasat melebur menjadi satu. Ini bukan tentang payung gadis itu yang rusak diterpa badai.
Kembali gadis itu berlari, berlari, dan menepi. Dipeluknya takdir. Dalam sedetik kemudian takdir bernyanyi, "Ikuti kata hatimu. Hidupmu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan logika. Jadilah gila. Gila yang membuatmu menjadi penuh dengan harapan dan membuat orang sekitarku merasakan musim yang sama denganmu. Musim semi."
Sekejap, hujan reda dan mentari tersenyum. Gadis itu masih menutup pinggiran payungnya dan senyum manis terkembang di ujung bibirnya.


Rabu, 02 Januari 2013

Maple Leaf

"A red maple leaf? Why?"
"It shows courage. It brings power. The symbol of beauty and yet mystery..."
"Is that it?"
"Nope, it's your favorite."

Like a maple leaf, you just fall down so fast but not to give up.
You're just being down to earth, down to land, down to the lowest level of reality.
Just like a maple leaf.
It's changed, after seasons. From green to yellow to orange and finally red.
You're just changed to be more mature and full of courage to go on adventure.
The beauty you barely see. But once they are blended with the wind. They are everyone's favorite.
The last day of autumn and the before beginning of winter. They'll come into humongous piles around the blocks, they'll lock the mystery, never let any tornado come inside.
You'll just adore it. You'll put your both eyes stick to the color, your favorite.
Only maple leaf.